Skip to main content
x
Nasional
Moh Fatichuddin

Menyandingkan Kemiskinan dan Pertumbuhan Ekonomi Bengkulu

 Oleh: Moh Fatichuddin, Statistisi Ahli Madya BPS Provinsi Bengkulu

Kemiskinan merupakan salah satu masalah mendasar yang menjadi pusat perhatian pemerintah di negara manapun. Di hampir semua negara berkembang, standar hidup sebagian besar penduduknya cenderung sangat rendah, tidak hanya jika dibandingkan dengan standar hidup orang–orang di negara kaya, namun juga dengan golongan elit di negara mereka sendiri. Standar hidup yang rendah tersebut terwujud salah satunya dalam bentuk tingkat pendapatan yang sangat rendah atau kemiskinan (Todaro, 2006). 

Pertumbuhan ekonomi diyakini memiliki pengaruh yang signifikan terhadap penurunan jumlah kemiskinan. Namun demikian pengaruh tersebut dapat saja berbeda antara negara yang satu dengan negara lainnya. Keadaan distribusi pendapatan, jumlah penduduk, urbanisasi memiliki kaitan penting dalam menentukan pengaruh yang terjadi antara pertumbuhan ekonomi dengan penurunan jumlah kemiskinan (Hasan dan Quibria, 2002). Menurut Jonaidi (2012), terdapat hubungan dua arah yang kuat antara pertumbuhan ekonomi dan kemiskinan di Indonesia.

Pertumbuhan ekonomi berpengaruh signifikan terhadap pengurangan angka kemiskinan, terutama di daerah perdesaan yang banyak terdapat kantong–kantong kemiskinan. Sebaliknya kemiskinan juga berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Bagaiamana dengan Provinsi Bengkulu, apakah antara pertumbuhan ekonomi dan kemiskinan sudah signifikan pengaruhnya?

Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi adalah sebuah proses dari perubahan kondisi perekonomian yang terjadi di suatu negara secara berkesinambungan untuk menuju keadaan yang dinilai lebih baik selama jangka waktu tertentu.(https://klc.kemenkeu.go.id/seri-ekonomi-makro-teori-pertumbuhan-ekonomi/). Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator keberhasilan suatu pemerintahan, karenanya mereka sangat perhatian terhadap hal ini. Saat ini ukuran besaran pertumbuhan ekonomi didekati oleh pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) suatu wilayah.

Tidak dipungkiri lagi bahwa pertumbuhan ekonomi menjadi primadona perhatian. Banyak orang beranggapan bahwa tingginya pertumbuhan menjadi suatu “prestasi” yang mutlak. Para pemimpin pemerintahan berlomba-lomba untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Angka pertumbuhan ekonomi menjadi “komiditi” yang sangat laku dalam dunia kampanye. Para calon pemimpin (petahana) akan dengan lantang menyebutkan tingginya pertumbuhan ekonomi saat kepemimpinannya, sementara calon “lawan”, dengan semangat membeberkan kelemahan-kelemahan yang menyertai pertumbuhan ekonomi.

Sepanjang dasawarsa 1950an pembangunan ekonomi diidentikkan dengan pertumbuhan ekonomi, yang memusatkan perhatian pada faktor-faktor pertumbuhan ekonomi. The Thoery of Economic Growthnya Arthur Lewis mencerminkan munculnya teori pertumbuhan, dan pertumbuhan ekonomi sebagai tujuan utama dari setiap kebijakan ekonomi. 

Dalam pandangan tersebut kata kunci keberhasilan pembangunan ekonomi adalah pembentukan modal, sehingga strategi yang sesuai untuk mencapainya adalah akselerasi pertumbuhan ekonomi dengan mengundang modal asing dan melakukan industrialisasi.

Pada akhir 1960-an mulai disadari bahwa pertumbuhan (growth) tidaklah identik dengan pembangunan (development). Saat itu negara-negara berkembang dapat mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi, namun disertai dengan berbagai masalah-masalah seperti pengangguran, kemiskinan di perdesaan, distribusi pendapatan yang timpang dan ketidakseimbangan strukutral. Hal ini memperkuat keyakinan bahwa pertumbuhan ekonomi merupakan syarat yang diperlukan (necessary) tetapi tidak mencukupi (sufficient) bagi proses pembangunan (Esmara, 1986; Meier, 1989).

Kemiskinan
Dalam pembangunan, angka kemiskinan berguna untuk: (a) menyusun kebijakan dan rencana pembangunan nasional, yang termasuk strategi penanggulangan kemiskinan; (b) menetapkan sasaran berbasis lokasi geografis maupun individu dan rumah tangga sasaran program pembangunan; (c) menentukan alokasi program penanggulangan kemiskinan; (d) memantau dan mengevaluasi program pembangunan, termasuk pencapaian Rencana Pembangunan Jangka Menengah/Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJMN/RPJPN) dan SDGs; (e) mengukur kinerja pemerintah pusat dan daerah (TNP2K, Kertas Kerja 48, 2020).
Menurut BPS kemiskinan merupakan kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach). Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran. Jadi Penduduk Miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran perkapita perbulan dibawah garis kemiskinan. Garis Kemiskinan (GK) merupakan penjumlahan dari Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM). Penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran perkapita per bulan dibawah Garis.

Kemiskinan dikategorikan sebagai penduduk miskin.
Tidak kalah menarikanya dengan pertumbuhan ekonomi, indikator kemiskinan sangat ditunggu “penampilannya”. Pergerakan angka kemiskinan sekecil apapun sangat berarti bagi kinerja pemerintahan. Berbagai program direncanakan, dilahirkan, diluncurkan bahkan dilounching dalam suatu seremoni yang luar biasa. Indikator kemiskinan “bak” mortar pada perhelatan pemilihan kepala daerah atau negara. Bak pisau bermata dua, bisa menguntungkan dan merugikan, karena itu perlu dituntut “kebijakan” dalam membaca dan memaknai angka kemiskinan.

Pertumbuhan Ekonomi dan Kemiskinan Bengkulu
Pertumbuhan ekonomi kab/kota di Provinsi Bengkulu tahun 2019 hampir semuanya berada di atas angka pertumbuhan ekonomi Provinsi Bengkulu. Tahun 2019 pertumbuhan ekonomi Provinsi Bengkulu mencapai angka 4,96 persen, dengan pertumbuhan ekonomi kab/kota di Provinsi Bengkulu angka tersebut relatif lebih rendah, hanya dengan Kab. Seluma angka pertumbuhan ekonomi Provinsi Bengkulu lebih tinggi, yaitu 4,95 persen. Pertumbuhan ekonomi tertinggi terjadi di Kota Bengkulu yang mencapai 5,43 persen, diikuti Kab. Mukomuko sebesar 5,06 persen.
Kemiskinan Provinsi Bengkulu tahun 2020 mencapai 15,03 persen lebih rendah dibanding angka tahun 2019 sebesar 15,23persen. Untuk kab/kota di Provinsi Bengkulu, angka kemiskinan tahun 2019 dan 2020 sebagian besar lebih rendah dan sebagian lagi lebih tinggi. Kab/kota yang memiliki angka kemiskinan lebih rendah dari angka provinsi adalah Kab. Bengkulu Utara sebesar 11,67 persen tahun 2020, Mukomuko 11,72 persen. Kab Lebong dan Kepahiang juga memiliki angka kemiskinan lebih rendah dengan angka 11,85 persen dan 14,69 persen.
Kab Bengkulu Selatan, Rejang Lebong, Kaur, Seluma dan Kota Bengkulu memiliki angka kemiskinan tahun 2020 lebih tinggi dibanding provinsi. Angka kemiskinan tertinggi di Kab. Seluma sebesar 18,56 persen, kemudian Kaur mencapai 18,47 persen, Bengkulu Selatan sebesar 17,82 persen, Kota Bengkulu 17,65 persen dan Kab. Rejang Lebong.15,85 persen.

Persandingan antara pertumbuhan dan kemiskinan menarik untuk di cermati. Ternyata pertumbuhan ekonomi tinggi belum mampu mempengaruhi secara maksimal terhadap kondisi ekonomi masyarakatnya. Pertumbuhan ekonomi tinggi belum sepenuhnya menjadikan angka kemiskinan rendah. Kab/kota dengan angka kemiskinan lebih tinggi dibanding angka Provinsi Bengkulu, memiliki pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dibanding provinsi. Dengan kata lain pertumbuhan ekonomi lebih tinggi belum bisa berdampak pada lebih rendahnya kemiskinan. 

Gambaran ini perlu menjadi perhatian pemerintah, penelitian terkait kondisi kondisi tersebut sangat perlu dilakukan. Pemerintah harus berusaha menghasilkan regulasi/kebijakan yang bersifat pro dengan kemiskinan dan peduli dengan pertumbuhan ekonomi. Pemerintah dan masyarakat harus seiring sejalan dalam mewujudkan korelasi positif antara pertumbuhan ekonomi dan kemiskinan. Semakin tinggi pertumbuhan ekonomi akan seiring dengan rendahnya angka kemiskinan.

  • Total Visitors: 924828

Facebook comments

Promotion

Adsense Page