Indonesia Diantara Gelombang Pemilu
Oleh: Sheylla Dwi Lestari mahasiswa ilmu hukum dari Universitas Bengkulu
Wartaprima.com - Amerika Serikat menggelar pesta demokrasi ketika pandemi Covid-19 belum menunjukkan tanda-tanda kapan akan berakhir. Ekonomi amat lesu dan defisit belanja negara semakin membengkak menjad salah satu kendala yang beskala global.
Seolah tak kunjung usai persoalan yang berkaitan dengan pemilu amerika serikat yang menimbulkan banyak spekulasi dan kontroversi dibalik fakta mengenai kecurangan-kecurangan yang terjadi dengan sederet ketenganggan yang ditimbulkan, dari hasil pemilihan presiden amerika serikat pada beberapa waktu lalu.
Membuat masyarakat amerika terpecah menjadi dua bagian yaitu pendukug joe biden dan trump sebagai petahana. Namun pada akhirnya hanya akan ada satu pemenang dalam pertandingan, pasangan calon joe biden dan kamala harris menjadi pasangan calon presiden dan wakil presiden terpilih dengan mendapatkan suara terbanyak di berbagai distrik atau bagian sektoral.
Pasangan calon presiden dan wakil presiden terpilih joe biden dan kamala harris unggul dengan perolehan suara sebanyak 50,9% dengan total suara sebanyak 77.491.345. berdasarkan perolehan ini biden unggul atas pasangan calon presiden adan wakil presiden petahana trump dengan mike pence selisih suara yang sedikit membuat keadaan semakin memanas dan keteganggan antar pihak pun tak terelakan.
Berdasarkan hasil perhitungan trump memperoleh suara sebanyak 47,5%suara, dengan total suara menurut perhitungan capat sebanyak 72.307.888 suara. Dampak dari panasnya pemili kali ini yang memecah rakyat amerika menjadi dua bagian nyata nya juga membawa perubahan besar dalam hubungan amerika dengan negara lain, termasuk indonesia. Berdasarkan pengamatan terhadap situasi terkini dari amerika serikat, kondisi negara amerika sendiri belum dapat datakan kondusif, hawa dari hasil perhitungan hasil pemungutan suara masih menjadi perbincangan hangat.
Mengenai kecurigaan akan adanya kecurangan yang terjadi selama masa pemilu dan sesudah hasil pemilu di umumkan. Perubahan atmosfer juga terasa dalam sektor ekonomi, pihak amerika kini memperketat permasalahan ekspor dan impor, sehingga sedikit mempersulit keadaan bagi sektor perdagangan menyikapi sikap amerika dalalm mengawasi produk yang masuk dan keluara dari dan ke negara amerika sendiri.
Dari sisi perdagangan internasional, menurut Ahmad Malik, jika Trump kembali ke Gedung Putih dia akan melanjutkan perang dagang dengan China. Sementara Biden akan cenderung akan mengatasi sengketa perdagangan dengan China secara multilateral, melalui organisasi perdagangan dunia (WTO). Pengenaan bea masuk ini membuat produk Indonesia menjadi tidak kompetitif. Sebab, harga produk yang diekspor tersebut akan lebih mahal sehingga dikhawatirkan akan kalah bersaing.
Kepada DW Indonesia, pengamat politik luar negeri yang juga mantan Duta Besar RI untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Makarim Wibisono, meyakini siapa pun presiden baru yang terpilih nantinya, tidak akan mengubah hubungan yang telah terjalin antara Indonesia dengan AS.
Hubungan Indonesia dengan AS sudah memiliki fondasi sejak lama. Hal itu ditunjukkan dari segi ekonomi, politik, sosial budaya dan pertahanan keamanan. Namun, selama puluhan tahun hubungan kedua negara dinilai selalu naik turun, contohnya pada tahun 1958 ketika AS mengirim pilot Airland Hope ke Sumatera yang mengganggu fasilitas pelabuhan dan fasilitas industri Tanah Air.
Namun bagi Indonesia, Amerika merupakan salah satu tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia selain China dan Uni Eropa. Lima produk ekspor andalan Indonesia ke Amerika Serikat adalah produk pakaian, hasil karet, alas kaki, produk elektronik, dan furnitur.
Posisi Indonesia sebagai negara terbesar di ASEAN membuat Indonesia menjadi pasar dagang dan tujuan investasi yang potensial terlepas dari siapa pun presiden yang memimpin Amerika Serikat. Jika Amerika Serikat melepas kepentingan di Indonesia begitu saja, maka pasar Indonesia akan didominasi China.
Dengan kata lain, pemilu AS tidak terlalu memengaruhi perekonomian nasional, namun justru diperkirakan dampaknya akan lebih terlihat pada perekonomian dunia, khususnya di sektor keuangan. Pengamat pertahanan dan militer Connie Rakahundini Bakrie mengungkapkan adanya hubungan baik antara Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal TNI Andika Perkasa dengan AS yang mungkin tidak banyak diketahui publik.
Hal ini terbukti dengan adanya sejumlah batalion yang sudah beberapa bulan menjalani latihan militer di Amerika. Tidak dapat dipungkiri, pemerintah Indonesia dan AS memang telah menjalin kerja sama dalam bidang militer. Jadi hendaknya Indonesia menata langkahlangkah di bidang-bidang tersebut, tidak hanya menyangkut masalah ekonomi, pembangunan, dan lainnya.
Kedua negara memandang pentingnya memperkuat kerja sama bilteral dengan meningkatkan kegiatan militer dan bekerja sama dalam menjaga keamanan maritim. Dalam konferensi pers bersama dengan mitranya dari Indonesia, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengatakan kedua negara sepakat memperkuat kerja sama.
Kedua negara ini sepakat melakukan kerja sama dibidang ekonomi serta pertahanan dan Akan ada lebih banyak investasi di sini dari Amerika Serikat, terutama dalam sektor digital, sektor energi dan sektor infrastruktur.
