Asal Jadi, Jalan Rabat Beton Lebong Tandai Diduga di Korupsi
Lebong, Wartaprima.com - Tahun anggaran 2017, desa Lebong Tandai, Kecamatan Napal Putih Kabupaten Bengkulu Utara memperoleh alokasi dana desa( DD ) senilai Rp. 754.191.000, dan Rp. 239.664.000 untuk Alokasi Dana Desa (ADD).
Dari jumlah alokasi DD itu, Rp. 667.235.915 digunakan untuk pembangunan jalan dengan konstruksi rabat beton yang menghubungkan desa Lebong Tandai dan Sungai Landai. Sedangkan selebihnya, anggaran dana desa tersebut digunakan untuk sejumlah kegiatan pemberdayaan masyarakat di Lebong Tandai.
Pembangunan jalan desa dengan konstruksi rabat beton sepanjang kurang lebih 2500 m dengan lebar 1 m dan ketebalan 15 cm itu agaknya tak sesuai dengan harapan masyarakat.
Sebab, dalam pengerjaannya diduga kuat tak sesuai dengan perencanaan awal. Ada dugaan jika dalam pelaksanaan pengerjaan jalan desa itu ada pihak yang dengan sengaja meraup keuntungan untuk kepentingan pribadi. Sehinga hal itu mempengaruhi mutu dan kualitas pekerjaan.
Hasil penelusuran wartawan Selasa, (24/07/18), dilapangan ditemukan lebar jalan desa yang tifak seluruhnya memiliki lebar 1 meter. Pada sejumlah titik, terdapat lebar jalan rabat beton yang hanya memiliki lebar 70 - 80 cm. Artinya, ada pengurangan volume pada pengerjaan jalan desa tersebut.
Selain itu, jalan dengan konstruksi rabat beton itu juga memiliki ketebalan yang tak menentu. Hasil penelusuran wartawan, pada bangunan rabat beton juga ada yang hanya memiliki ketebalan 5 hingga 10 cm. Padahal, pada gambar kerja, jalan itu harusnya memiliki lebar 1 m dan ketebalan rata - rata 15 cm.
Menurut sumber wartawan yang enggan untuk disebutkan namanya, kepada wartawan mengungkapkan bahwa pada pengerjaan pembangunan rabat beton desa Lebong Tandai banyak ditemukan hal hal yang janggal, seperti pada pengerjaan pembangunan jalan sepanjang kurang lebih 2.5 km itu justru tidak menggunakan molen atau mesin pengaduk semen.
Yang terjadi justru pengerjaan pembangunan dikerjakan terkesan asalan. Dimana material pasir, batu dan semen di aduk secara manual tanpa memperhatikan jumlah campuran antara semen, pasir dan batu.
Disamping itu, pada lapisan bawah jalan rabat beton yang hanya terisi oleh material pasir dan batu tanpa campuran semen.
Masih menurut sumber, pengerjaan pembangunan rabat beton itu awalnya dipercayakan kepada pihak ketiga (Kepala Tukang) dengan upah yang telah di tentukan oleh kepala desa.
Akan tetapi selama proses pengerjaan pembangunan jalan rabat beton itu agaknya sejumlah kepala tukang tak mampu menyelesaikan pekerjaan dan lebih memilih untuk mundur.
Menurut informasi yang di himpun, diketahui sebanyak 5 pihak ketiga mengundurjan diri dari pekerjaan itu. Hingga pada akhir tahun anggaran 2017 pekerjaan pembangunan jalan rabat beton itu tak bisa di selesaikan.
Namun anehnya, hingga tahun anggaran 2018, pekerjaan pembangunan jalan itu tetap diblanjutkan. Hal ini pun di akui oleh kepala desa Lebong Tandai Supriyadi kepada wartawan.
" iya betul, itu pekerjaan lanjutan tahun 2017 lalu," ujar lelaki yang kerap di panggil Adi.
Di katakan Supriyadi, pekerjaan lanjutan pembangunan jalan rabat beton yang berlangsung pada tahun anggaran 2018 ini merupakan pengerjaan lanjutan dari tahun 2017 yang memang belum selesai pekerjaannya.
Sebab, menurut Supriadi, ada beberapa kendala yang di hadapi dalam pengerjaan pembangunan saat itu. Material adalah salah satunya. Jarak tempuh desa Lebong Tandai yang sangat jauh dan harus di tempuh dengan perjalanan selama 7 jam perjalanan dengan menggunakan alat transportasi Molek (Motor Lory Expres), itulah yang mempengaruhi pekerjaan pembangunan hinga tak dapat diselesaikan pada tahun 2017 lalu.
Namun aneh nya, di katakan Supriyadi bahwa sumber anggaran dari pekerjaan lanjutan yang kini dikerjakan tersebut bersumber dari Dana Desa Lebong tandai tahun anggaran 2017.
" iya benar itu pekerjaan lanjutan dari DD 2017. Sumber anggaran nya juga dari Dana Desa tahun 2017. Jadi kalau kita perlukan untuk pembelian material atau sebagainya kita tarik dana DD tahun 2017 tersebut," ujar Supriyadi.
Pada pengerjaan pembangunan rabat beton itupun ditemukan sejumlah pekerjaan yang tidak dilaksanakan.
Seperti pada link jalan di Lobang Panjang.
Akan tetapi anehnya kekurangan pekerjaan itu akan di lanjutkan tahun 2018 ini dengan menggunakan sumber anggaran dana desa tahun 2017, hanya saja link jalan yang belum selesai dibangun pada tahun anggaran 2017 lalu itu akan di alihkan ke lokasi lain nya. Dengan kata lain, kekurangan atas pekerjaan yang dilakukan pada tahun anggaran 2017 lalu akan diselesaikan pada tahun anggaran 2018, dengan sumber pembiayaan DD tahun anggaran 2017.
" iya memang ada beberapa pekerjaan yang belum selesai, dan juga ada lebar jalan yang tidak genap berukuran 1 meter. Hal itu di karenakan keadaan lokasi pembangunan yang persis bersebelahan dengan Rel Molek. Jika dipaksakan hal itu akan mengganggu Rel. Tapi kekurangan volume itu kita tambah dan dikerjakan di 2018 ini. Kekurangan pekerjaan akan kita tambah. Misalkan jalan harusnya memiliki panjang 2,5 km, akibat kurangnya lebar jalan maka panjang jalan akan kita tambah menjadi 2.6 km atau lebih", demikian Supriyadi. [Hery]
