Kecil Seperti Hatta, Hati Seluas Samudra: Dulu untuk Kota, Kini untuk Semua
BENGKULU – Kepemimpinan Gubernur Bengkulu H. Helmi Hasan, SE, periode 2025–2030 dinilai membawa sejumlah program yang sebelumnya dijalankan saat menjabat Wali Kota Bengkulu, kini diperluas untuk menjangkau masyarakat di seluruh Provinsi Bengkulu.
Dengan postur tubuh yang tidak tinggi, sederhana, dan bersahaja, Helmi Hasan mungkin tampak seperti masyarakat biasa ketika berjalan di pasar. Namun, saat berbicara, ia mampu menarik perhatian orang-orang di sekitarnya melalui semangat, optimisme, pandangan jauh ke depan, dan doa yang disampaikannya.
Kepemimpinan Helmi Hasan kerap dikaitkan dengan sosok Mohammad Hatta dalam religiusitasnya, Sutan Syahrir dalam diplomasinya, serta Bung Karno sebagai orator ulung. Namun, dalam perspektif kepemimpinan transformatif, Helmi Hasan memiliki karakter kepemimpinan tersendiri. Ia dikenal sebagai sosok yang menyapa masyarakat dengan lembut dan mendoakan mereka dengan tulus.
Kini, Helmi Hasan disebut sebagai ikon baru Provinsi Bengkulu. Sebutan tersebut muncul seiring dengan berbagai program yang sebelumnya dirasakan masyarakat Kota Bengkulu dan kini secara bertahap diperluas untuk masyarakat di seluruh provinsi.
Dari Kota untuk Seluruh Provinsi: Kontinuitas Kebaikan yang Diperluas
Banyak pihak sempat mengira bahwa berbagai program yang dijalankan Helmi Hasan selama menjabat Wali Kota Bengkulu periode 2013–2023 akan berakhir setelah masa jabatannya selesai. Namun, ketika menjabat Gubernur Bengkulu, sejumlah program tersebut kembali dihidupkan dengan cakupan yang lebih luas.
1. Dulu Jalan Mulus Hanya di Kota, Kini Jalan Mulus untuk Seluruh Provinsi
Saat menjabat Wali Kota Bengkulu, Helmi Hasan menjalankan pembangunan jalan hingga ke gang-gang kecil. Bahkan, jalan provinsi yang rusak di tengah kota turut ditangani karena ia tidak ingin masyarakat harus menunggu terlalu lama, melewati jalan becek, atau mengalami kecelakaan akibat kondisi jalan.
Kini, sebagai Gubernur Bengkulu, melalui Program BANTU RAKYAT, ia mengalokasikan anggaran sekitar Rp600 miliar untuk pembangunan jalan dan jembatan.
Data dari Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi Bengkulu, Tejo Suroso, mencatat bahwa pada 2025 sebanyak 22 ruas jalan sepanjang 190,86 kilometer telah dikerjakan dengan nilai anggaran Rp514.034.781.611.
Rinciannya meliputi Kabupaten Bengkulu Tengah sebanyak empat ruas sepanjang 54,67 kilometer dengan anggaran Rp161,2 miliar, Kabupaten Rejang Lebong empat ruas sepanjang 51,58 kilometer senilai Rp108,5 miliar, serta Kabupaten Seluma tiga ruas sepanjang 33,83 kilometer dengan anggaran Rp76,9 miliar.
Untuk 2026, direncanakan pembangunan 12 ruas jalan sepanjang 32,612 kilometer dengan Rencana Anggaran Biaya (RAB) sebesar Rp119,6 miliar.
Salah satu proyek yang menjadi perhatian adalah pembangunan Jalan Rawa Makmur sepanjang dua kilometer dengan anggaran Rp20 miliar. Pekerjaan tersebut dimulai pada Selasa, 13 Oktober 2026, dari Gang Tanggul, Jembatan Kembar, hingga SPBU Rawa Makmur.
Jalan tersebut selama bertahun-tahun menjadi persoalan bagi warga dan kawasan perkantoran Pemerintah Kota Bengkulu karena kerap terisolasi ketika banjir.
“Bismillahirrahmanirrahim, pekerjaan Jalan Rawa Makmur ini kita mulai. Jalan ini ditinggikan dan diperbaiki sehingga tidak ada lagi cerita warga terisolasi saat banjir,” ucap Helmi Hasan, didampingi Sekretaris Daerah Provinsi Bengkulu Herwan Antoni dan Kepala Dinas PUPR Tejo Suroso.
Secara keseluruhan, pembangunan jalan ditargetkan mencakup 82 ruas sepanjang 1.330,165 kilometer sesuai SK Gubernur D.468.DPUTR 2022, yang ditargetkan tuntas pada 2028.
Pembangunan tersebut bukan sekadar pekerjaan fisik, melainkan juga upaya memperkuat konektivitas dan akses masyarakat di berbagai wilayah.
2. Dulu Satu Kelurahan Satu Ambulans, Kini Ambulans untuk Semua
Ketika menjabat Wali Kota Bengkulu, Helmi Hasan menghadirkan program satu kelurahan satu ambulans. Kendaraan tersebut digunakan untuk membantu warga yang sakit, termasuk mengantarkan pasien hingga ke Medan secara gratis.
Program itu berangkat dari pemikiran bahwa masyarakat yang sedang sakit tidak seharusnya menghadapi beban tambahan akibat keterbatasan biaya transportasi.
Sehari setelah dilantik menjadi Gubernur Bengkulu, surat pertama yang ditandatangani Helmi Hasan adalah kebijakan pembebasan retribusi ambulans dan kereta jenazah di RSUD dr. M. Yunus dan RSJKO. Kebijakan tersebut ditujukan agar keluarga tidak lagi terbebani ketika harus membawa pulang jenazah anggota keluarganya.
Manfaat program bantuan juga dirasakan Ezi, warga Lubuk Sandi, Kabupaten Seluma. Pada 8 April 2025, anaknya menjalani perawatan di RS Gading Medika dan belum memiliki BPJS Kesehatan.
Ezi kemudian melaporkan kondisinya melalui Unit Reaksi Cepat (URC) Bantu Rakyat. Dalam hitungan jam, kepesertaan BPJS anaknya disebut telah aktif.
Kisah tersebut menggambarkan upaya menghadirkan pelayanan yang responsif sehingga masyarakat dapat memperoleh bantuan dalam waktu singkat.
3. Dulu HD OTo, Kini HM Samawa
Saat menjabat Wali Kota Bengkulu, Helmi Hasan menghadirkan program HD OTo dan HD Samawa. Melalui program tersebut, mobil dinas wali kota dan fasilitas rumah dinas dapat dimanfaatkan masyarakat untuk kebutuhan pernikahan pada Sabtu dan Minggu.
Ketika menjabat gubernur, program serupa dilanjutkan melalui HM Samawa sebagai bagian dari Program Bantu Rakyat.
Pada Minggu, 29 Juni 2025, mobil dinas Gubernur Bengkulu BD 1 jenis Land Cruiser digunakan untuk mengantar pasangan pengantin Nugroho dan Rara di kawasan Pantai Panjang, Kota Bengkulu. Peristiwa tersebut bukan kali pertama fasilitas kendaraan dinas digunakan untuk membantu masyarakat yang melangsungkan pernikahan.
Rara menyampaikan rasa terima kasih atas fasilitas yang diterimanya.
“Saya mengucapkan terimakasih kepada bapak Gubernur Bengkulu H. Helmi Hasan yang telah memfasilitasi mobil pengantin. HM Samawa Padek Nian,” kata Rara dengan mata berkaca-kaca.
Gubernur Helmi Hasan bersama Wakil Gubernur Mian mempersilakan masyarakat menggunakan mobil dinas Land Cruiser atau Alphard untuk menjemput pengantin pada Sabtu dan Minggu.
Helmi Hasan mengatakan, fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan masyarakat yang telah menemukan pasangan hidup, tetapi memiliki keterbatasan biaya untuk menyewa kendaraan pengantin.
“Yang sudah ketemu jodoh, kemudian tidak ada Oto mau jemput pengantin, mau sewa uang terbatas, boleh gunakan Mobil Dinas Gubernur,” kata Helmi.
Ia menambahkan, “Karena pengantin itu Ratu dan Raja satu hari.”
Tidak hanya kendaraan dinas, masyarakat juga dipersilakan menggunakan Rumah Dinas Gubernur untuk berbulan madu tanpa biaya.
“Bulan madunya kalau tidak ada duit pergi ke Bali dan sewa Hotel, gunakan Rumah Dinas Gubernur. Kamarnya bagus, mantap, AC-nya dingin,” ujarnya.
Program tersebut menggambarkan pemanfaatan fasilitas pemerintah untuk kepentingan masyarakat, termasuk membantu pasangan pengantin yang memiliki keterbatasan biaya.
4. Dulu Apel di Halaman Kantor, Kini Apel Sosial melalui TikTok Pukul 20.00 WIB
Jika selama ini apel pejabat identik dengan kegiatan pada Senin pagi di halaman kantor, sejak Selasa, 6 Oktober 2026, Helmi Hasan menghadirkan pendekatan berbeda melalui kegiatan Apel Sosial yang disiarkan secara langsung melalui TikTok pada pukul 20.00 WIB.
Kegiatan tersebut diikuti ribuan pejabat dan ribuan warga Bengkulu secara daring. Melalui format ini, pejabat dan masyarakat dapat berinteraksi secara langsung, termasuk menyampaikan persoalan yang mereka hadapi.
Dalam Apel Sosial malam kedua, seorang warga menyampaikan keluhannya mengenai tunggakan iuran BPJS Kesehatan selama empat bulan karena tidak mampu membayar.
“Aria pak, BPJS saya nunggak 4 bulan. Tidak sanggup bayar,” ungkap warga tersebut.
Pada malam itu, Riko dari BPJS yang diminta berbicara dalam siaran langsung tersebut disebut langsung mengaktifkan kartu BPJS warga bersangkutan.
Dengan mekanisme tersebut, persoalan yang disampaikan warga dapat segera ditindaklanjuti pada malam yang sama.
Dalam kesempatan itu, Helmi Hasan juga menyoroti pelayanan mutasi kendaraan yang dinilai tidak boleh dipersulit. Ia meminta Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Provinsi Bengkulu, Hadianto, untuk menindaklanjuti jika ditemukan petugas yang mempersulit masyarakat.
“Pak mutasi kendaraan jangan dipersulit. Kalau ada yang mempersulit, catat siapa orangnya. Kasih tahu ke saya,” tegasnya.
Selain itu, terdapat terobosan melalui Surat Edaran Bapenda Nomor B.900.1.13.1/429/BAPENDA.III/2026 yang menyatakan bahwa pembayaran pajak kendaraan tahunan tidak wajib menggunakan KTP pemilik lama.
5. Dulu Hanya Mimpi ke Luar Negeri, Kini Dua Orang per Desa Berpeluang Kuliah dan Bekerja di Jepang
Dalam Apel Sosial malam kedua pada Rabu malam, 7 Oktober 2026, Helmi Hasan mengumumkan program yang membuka peluang bagi generasi muda Bengkulu untuk kuliah dan bekerja di Jepang.
Program tersebut merupakan Beasiswa Pemuda Bangun Desa ke Jepang yang disebut sebagai hasil kerja sama Kementerian Desa dengan pemerintah Jepang.
Saat kegiatan berlangsung, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) menyampaikan perkembangan hasil rapat internal yang dipimpin langsung oleh Sekretaris Daerah terkait program magang ke Jepang yang sebelumnya ditanyakan dalam apel malam sebelumnya.
“Berkaitan dengan program magang ke Jepang yang ditanyakan pada apel malam sebelumnya, kami sampaikan pak Gubernur bahwa kita telah melakukan rapat internal yang langsung dipimpin Pak Sekda,” kata Kepala Dinas PMD saat diminta menyampaikan penjelasan.
Helmi Hasan kemudian meminta seluruh kepala daerah dan jajaran pemerintahan agar bergerak cepat menyosialisasikan program tersebut kepada masyarakat.
“Kepada seluruh putra putri Bengkulu, Kerjasama antara Kementerian Desa dengan pemerintah Jepang. Jangan sampai tidak ikut. Saya minta seluruh bupati, camat agar gercep. Mana yang ingin kuliah di Jepang, bekerja di Jepang, boleh dicari per desa minimal 2 orang,” tegasnya.
Dengan jumlah 1.298 desa di Provinsi Bengkulu, target minimal dua orang dari setiap desa berpotensi membuka kesempatan bagi sedikitnya 2.596 pemuda untuk mengikuti program tersebut.
Program ini diharapkan menjadi salah satu jalan bagi generasi muda dari desa-desa di Bengkulu untuk memperoleh kesempatan pendidikan dan pengalaman kerja di luar negeri.
6. Dulu Gerakan Peduli Yatim di Kota, Kini 3.453 Anak Asuh di Seluruh Provinsi
Ketika menjabat Wali Kota Bengkulu, Helmi Hasan menjalankan gerakan kepedulian terhadap anak yatim, janda, lanjut usia, dan penyandang disabilitas. Program tersebut antara lain diwujudkan melalui pengangkatan anak yatim sebagai anak asuh oleh pejabat di lingkungan Pemerintah Kota Bengkulu.
Kepeduliannya terhadap janda bahkan membuatnya mendapat julukan Wali Kota 1001 Janda. Julukan tersebut sempat menjadi bahan cibiran, tetapi tidak membuatnya menghentikan program kepedulian sosial.
Kini, saat menjabat Gubernur Bengkulu, gerakan tersebut diperluas melalui program yang mewajibkan setiap pejabat Pemerintah Provinsi Bengkulu mengangkat anak yatim piatu sebagai anak asuh.
Berdasarkan data Biro Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Pemkesra) Sekretariat Daerah Provinsi Bengkulu per Rabu, 7 Oktober 2026, sebanyak 3.453 anak telah terdata dalam program Sahabat – Sedekah Anak Asuh Bengkulu Amanah dan Tangguh (ANAK ASUH BENGKULU).
Sebaran anak yang terdata meliputi Kota Bengkulu sebanyak 1.049 anak, Kabupaten Bengkulu Utara 522 anak, Bengkulu Selatan 403 anak, Rejang Lebong 359 anak, Bengkulu Tengah 272 anak, Kaur 237 anak, Seluma 170 anak, Lebong 166 anak, Kepahiang 163 anak, dan Mukomuko 112 anak.
Setiap anak asuh telah memiliki pejabat pengampu yang berasal dari berbagai tingkatan jabatan, mulai dari eselon II, III, dan IV hingga staf. Para pengampu tersebut secara rutin menyerahkan santunan secara langsung dan berkelanjutan.
Program ini tidak hanya berorientasi pada pemberian bantuan, tetapi juga membangun ikatan kepedulian antara pejabat pemerintah dan anak-anak yang membutuhkan perhatian.
Hati yang Sama, Skala Lebih Luas
Selain berbagai program tersebut, Pemerintah Provinsi Bengkulu juga menjalankan program SADESAHE atau Satu Desa Satu Hektare Jagung yang diikuti 1.298 desa.
Di sektor perkebunan, kopi Bengkulu disebut menempati peringkat kelima nasional dengan produksi 55 ribu ton per tahun. Sektor ini juga memperoleh dukungan pendanaan global sebesar Rp23,55 miliar untuk perhutanan sosial.
Helmi Hasan juga disebut sebagai gubernur pertama yang mengikuti program Pohon Asuh di kawasan Lemo Nakai dan Air Tenam. Melalui program tersebut, donasi sebesar Rp200 ribu per tahun digunakan untuk membantu menjaga pohon dengan tinggi 60–150 sentimeter, yang membutuhkan waktu puluhan tahun untuk tumbuh tetapi dapat tumbang hanya dalam lima menit.
Dari sisi persepsi publik, Survei Prisma Research & Strategy yang dilaksanakan pada 22 Juni hingga 2 Juli 2026 mencatat tingkat kepuasan terhadap kinerja Helmi Hasan sebesar 81,2 persen dan kepuasan terhadap keamanan lingkungan sebesar 85,8 persen.
Ia juga meraih detikSumatera Awards 2026 dalam kategori Inovasi Penggerak Konektivitas Antarwilayah.
Di tengah berbagai program dan capaian tersebut, Helmi Hasan tetap menyampaikan bahwa keberhasilan yang diraih bukan semata-mata karena dirinya.
“Helmi Hasan itu tidak bisa apa-apa, apa yang terjadi di Kota Bengkulu bukan karena Helmi Hasan Walikota, yang terjadi di Provinsi bukan karena Helmi Hasan Gubernur, tapi karena pertolongan Allah,” ujarnya dengan suara bergetar.
Helmi Hasan lahir di Lampung Selatan pada 29 November 1979. Ia merupakan suami dari Khairunnisa, putri asli Seluma. Sejak menempuh pendidikan di Universitas Bengkulu, ia memilih menetap dan menjadi bagian dari masyarakat Bengkulu.
Sebagai adik Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, ia disebut memiliki peluang untuk menempati jabatan lain di tingkat nasional, seperti menteri atau duta besar. Namun, ia memilih mengabdikan diri untuk Bengkulu.
“Kami tidak ingin hanya sekadar memimpin, tetapi benar-benar bekerja untuk rakyat,” katanya.
Kini, berbagai program yang sebelumnya dijalankan di Kota Bengkulu secara bertahap diperluas ke tingkat provinsi. Program kepedulian sosial yang dahulu berfokus pada masyarakat perkotaan kini menjangkau ribuan anak asuh. Pelayanan publik juga diarahkan agar lebih responsif, sementara fasilitas pemerintah dimanfaatkan untuk membantu kebutuhan masyarakat, termasuk penyelenggaraan pernikahan.
Di bidang pendidikan dan ketenagakerjaan, peluang bagi pemuda desa untuk kuliah dan bekerja di Jepang turut diperkenalkan sebagai bagian dari upaya memperluas kesempatan.
Seperti yang digambarkan dalam perjalanan kepemimpinannya, apa yang dahulu hanya dinikmati masyarakat kota kini diupayakan menjangkau seluruh masyarakat Bengkulu.
Tubuh boleh kecil seperti Hatta, tetapi hati yang mau bekerja dengan tulus ternyata bisa seluas samudra.
