Kisah Kemanunggalan TMMD ke-128 di Bumi Seganti Setungguan
Oleh : Jalu Dwiatmaja
Ketika kabut pagi masih memeluk erat pucuk-pucuk pohon karet dan hamparan sawit di daratan Kikim Timur, desau angin membawa bisikan harapan yang berbeda. Di atas tanah berbukit Kabupaten Lahat, matahari terbit bukan sekadar penanda pergantian hari, melainkan saksi bisu dari runtuhnya dinding-dinding keterisolasian yang selama bertahun-tahun membelenggu gerak nadi kehidupan warga pedesaan.
Desa Lubuk Tampang, sebuah wilayah elok yang berjarak sekitar 6 kilometer dari pusat kecamatan dan 36 kilometer dari ibukota Kabupaten Lahat, kini sedang bersolek dengan gairah yang membara. Di sela-sela tegakan pohon yang menghasilkan lateks, riuh rendah suara cangkul, deru mesin alat berat, dan gelak tawa penuh keakraban memecah kesunyian yang biasanya mencengkeram erat wilayah agraris ini.
Kabupaten Lahat yang dikenal dengan julukan Bumi Seganti Setungguan menjadi panggung utama sebuah gerakan kemanusiaan dan pembangunan yang masif melalui TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-128 Tahun 2026. Di desa ini, sebagian besar masyarakat menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian dan perkebunan sawit serta karet, bertumpu pada hasil alam demi menyambung napas keluarga.

Bupati Lahat, Burza Zarnubi, S.E., saat memimpin Upacara Pembukaan TMMD ke-128 di lapangan Desa Lubuk Tampang, Rabu (22/4/2026).
Namun, keterbatasan infrastruktur kerap kali menjadi hantu menakutkan yang mencekik harga jual karet dan memperpanjang rantai distribusi hasil pertanian warga. Kehadiran para prajurit TNI di tengah-tengah pemukiman seolah membawa fajar kembar; menerangi jalan-jalan yang semula berlumpur sekaligus menyalakan kembali api semangat gotong royong yang sempat meredup oleh gerusan zaman modern.
Rabu yang cerah pada tanggal 22 April 2026 menjadi tonggak sejarah baru saat upacara pembukaan TMMD ke-128 resmi digelar di lapangan desa dengan penuh khidmat. Dipimpin langsung oleh Bupati Lahat, Burza Zarnubi, S.E., selaku Inspektur Upacara, kegiatan tersebut mengusung tema besar yang begitu filosofis dan sarat makna, yaitu “TMMD Satukan Langkah Membangun Negeri dari Desa.”
Meniti Jalan Lahirnya Peradaban Baru: Penghubung Lubuk Tampang – Gedung Agung
Pembangunan fisik merupakan jangkar utama dalam membebaskan Desa Lubuk Tampang dari belenggu keterbatasan akses mobilitas yang selama ini mengikat warga. Sasaran fisik utama yang digarap dengan penuh dedikasi oleh Satgas TMMD bersama masyarakat adalah pembukaan jalan sepanjang 3,5 kilometer dengan lebar mencapai 6 meter.
Jalan baru ini bukan sekadar hamparan tanah yang diratakan, melainkan bentangan harapan yang memotong jarak, menghubungkan Desa Lubuk Tampang secara langsung menuju Desa Gedung Agung. Selama puluhan tahun, rute ini adalah jalur tengkorak berupa kubangan lumpur hidup yang kerap melumpuhkan truk pengangkut sawit dan motor para penderes karet. Ketika musim hujan tiba, hasil bumi terpaksa tertahan hingga membusuk, atau terpaksa dijual dengan harga murah ke tengkulak akibat ongkos angkut yang mencekik.
Kini, dengan terbukanya jalan lingkar Lubuk Tampang menuju Gedung Agung, urat nadi perekonomian baru telah berdenyut. Kelancaran pengangkutan hasil bumi bukan lagi sekadar impian di atas kertas. Truk-truk pengangkut getah karet dan tandan buah segar (TBS) sawit kini dapat melaju tanpa cemas, memangkas waktu tempuh, dan secara otomatis mendongkrak nilai tawar komoditas di pasar kabupaten.

Alat berat Satgas TMMD ke-128 sedang meratakan bukit untuk membuka akses jalan lingkar sepanjang 3,5 KM yang menghubungkan Desa Lubuk Tampang ke Desa Gedung Agung.
Tidak hanya pembukaan jalan, para prajurit juga membangun infrastruktur pendukung yang krusial seperti pembuatan plat duiker untuk memastikan aliran air tidak merusak struktur jalan saat musim penghujan tiba. Sektor keamanan dan ketertiban lingkungan tidak luput dari perhatian dengan didirikannya bangunan Poskamling yang baru dan resmi di sudut desa.
Kehidupan spiritual dan pendidikan anak-anak pun mendapat sentuhan kasih melalui rehabilitasi Musholah serta gedung Sekolah TK yang kini tampil bersih dan nyaman. Melengkapi pembangunan infrastruktur yang berbasis sanitasi dan kesehatan lingkungan, Satgas TMMD juga membangun fasilitas Mandi, Cuci, Kakus (MCK) untuk warga demi mengubah pola hidup masyarakat menjadi lebih higienis secara jangka panjang.
Pengawasan Ketat Demi Mutu Terbaik
Pelaksanaan proyek fisik yang masif ini diawasi dengan sangat ketat dan terukur agar memberikan hasil yang maksimal. Tim Pengawasan dan Evaluasi (Wasev) Staf PJO TMMD yang dipimpin oleh Brigjen TNI Imam Sampurno Setiawan turun langsung ke lapangan guna meninjau setiap jengkal perkembangan infrastruktur tersebut.
“Kami berharap pembangunan jalan ini dapat selesai tepat waktu sehingga manfaatnya segera dirasakan masyarakat,” kata Brigjen TNI Imam Sampurno Setiawan dengan nada optimis saat meninjau langsung timbunan tanah merah yang kini mulai mengeras. Kehadiran tim Wasev memberikan jaminan kualitas bahwa setiap tetes keringat prajurit dan warga berbuah pada bangunan yang kokoh dan tahan lama.

Brigjen TNI Imam Sampurno Setiawan saat berdialog dengan warga dan meninjau langsung kualitas pengerjaan jalan penghubung antar desa.
Menyemai Benih Pengetahuan dan Ketahanan Jiwa Masyarakat
Pembangunan seutuhnya tidak hanya berbicara tentang benda mati yang berdiri kokoh, tetapi juga tentang penguatan kapasitas manusia yang hidup di dalamnya. Oleh karena itu, TMMD ke-128 Kodim 0405/Lahat menaruh perhatian yang sangat besar pada program sasaran non-fisik melalui serangkaian penyuluhan.
Materi penyuluhan dirancang secara komprehensif, dimulai dari Penyuluhan Bela Negara dan Penyuluhan Wawasan Kebangsaan (Wasbang) untuk menanamkan rasa cinta tanah air. Para pemuda desa juga dibekali dengan Penyuluhan Bahaya Narkoba sebagai langkah preventif membentengi generasi penerus dari ancaman zat adiktif.
Mengingat corak desa yang agraris, Penyuluhan Pertanian menjadi oase pengetahuan yang sangat dinantikan oleh para petani kebun karet dan padi sawah di sana. Sektor kesehatan keluarga digarap secara keroyokan melalui Penyuluhan KB Kesehatan, Penyuluhan Stunting, serta optimalisasi kegiatan Penyuluhan Posyandu dan Penyuluhan Posbindu.
Perpaduan antara pembangunan raga berupa jalan dan pembangunan jiwa berupa penyuluhan menciptakan keseimbangan pembangunan yang paripurna di tingkat desa. Matahari boleh saja membakar kulit, namun kebersamaan yang terajut di bawah rindangnya pohon sawit adalah peneduh yang tiada bandingnya bagi jiwa-jiwa yang rindu akan perubahan. Di sela-sela deru buldozer, senyuman tipis para perempuan desa yang mengantarkan kopi hangat adalah tanda bahwa cinta rakyat kepada tentaranya tidak pernah luntur oleh waktu.
Bupati Lahat, Burza Zarnubi, S.E., dalam sebuah kesempatan dengan penuh rasa bangga mengapresiasi jajaran Kodim 0405/Lahat atas komitmennya yang tanpa pamrih. Ia menegaskan bahwa TMMD merupakan bentuk nyata kolaborasi lintas sektor yang tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga menyentuh aspek nonfisik.
“Pemerintah Kabupaten Lahat sangat mendukung kegiatan TMMD karena program ini membantu percepatan pembangunan infrastruktur di desa dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Wakil Bupati Lahat, Widia Ningsih, menambahkan. Sinergi yang harmonis antara jajaran Pemda dan TNI ini terbukti memotong jalur birokrasi yang panjang demi kepentingan langsung masyarakat kecil.
Sentuhan Program Unggulan TNI AD Membasuh Dahaga
Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) memiliki perhatian khusus terhadap pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat pedesaan yang diwujudkan melalui Program Unggulan TNI AD. Di Desa Lubuk Tampang, program unggulan ini diimplementasikan secara nyata melalui pembuatan sumur bor di 5 titik strategis untuk mengatasi masalah air bersih yang kerap melanda saat musim kemarau.

Sumur bor program unggulan Kasad yang kini membasuh dahaga menahun warga Lubuk Tampang.
Selain air, program Ketahanan Pangan berupa budidaya ikan juga dikembangkan untuk memberikan alternatif penghasilan dan pemenuhan gizi protein bagi warga desa. Kelestarian alam tetap terjaga berkat aksi Penanaman Pohon sebanyak 500 pohon yang disebar di area-area kritis dan fasilitas umum desa.
Sisi kemanusiaan yang paling menyentuh adalah pengerjaan Rehab Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) sebanyak 5 unit bagi keluarga yang kurang beruntung secara ekonomi. Ditambah lagi dengan aksi nyata pemberian 100 paket sembako dan nutrisi kepada warga dalam rangka pencegahan stunting secara dini dan menyeluruh.
Seluruh rangkaian program unggulan tersebut ditutup dengan aksi Pembersihan Lingkungan secara massal. Dansatgas TMMD ke-128 Kodim 0405/Lahat, Letkol Inf David Jihandika Hendry Wijayanto, S.H., M.Sos., menjelaskan dengan lugas esensi dari gerakan ini.
“Program TMMD adalah jembatan emas yang menghubungkan mimpi-mimpi masyarakat desa dengan kenyataan kemajuan, sebuah ruang di mana pengabdian TNI melebur tanpa batas dengan harapan rakyat,” ungkap Letkol Inf David Jihandika.
Pernyataan Dansatgas tersebut diamini oleh Kepala Desa Lubuk Tampang, Taufiqurrahman, yang merasakan langsung dampak positif dari kehadiran Satgas di wilayahnya. Kades menyatakan bahwa program TMMD tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga memberikan perhatian terhadap kondisi sosial masyarakat melalui berbagai kegiatan kemasyarakatan.
Sinergi Lintas Sektoral dan Isak Tangis Kebahagiaan
Keberhasilan program TMMD ke-128 di Kecamatan Kikim Timur ini tidak terlepas dari komposisi pelibatan personel yang sangat solid. Tercatat sebanyak 85 orang personel TNI AD, 10 orang TNI AL, dan 10 orang TNI AU bahu-membahu dalam satu komando satgas yang tangguh. Kekuatan ini semakin diperkokoh dengan hadirnya 10 orang anggota Polri, 5 orang perwakilan Pemda, 8 orang Pemerintah Desa (Pemdes), serta 70 orang perwakilan Masyarakat.
Setiap hari, sebanyak 148 orang ini bergotong-royong di bawah terik matahari, meleburkan ego sektoral demi satu tujuan: memajukan Desa Lubuk Tampang.
Kebahagiaan sejati terpancar jelas dari wajah Sutrisno, salah satu warga setempat yang beruntung mendapatkan bantuan manfaat dari program Rehab RTLH. “Saya merasa sangat berterima kasih dan bahagia, rumah kami yang dulu bocor dan reot kini sudah kokoh berkat bapak-bapak TNI,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Hal senada juga diungkapkan oleh Bambang, warga Desa Lubuk Tampang lainnya, yang memuji pengadaan sarana air bersih di pemukiman mereka. Bambang mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas pembuatan sumur bor dan fasilitas air bersih di desanya yang kini membuat warga tidak perlu kesulitan lagi saat kemarau.
Komandan Korem 044/Gapo, Brigjen TNI Khabib Mahfud, S.I.P., M.M., saat meninjau langsung progres program di lapangan menekankan pentingnya pelaksanaan TMMD yang tepat sasaran. “TMMD harus menjadi wujud nyata kemanunggalan TNI dengan rakyat. Laksanakan kegiatan ini dengan penuh tanggung jawab, dedikasi, dan keikhlasan, sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh masyarakat,” tegas Danrem.
Warisan Abadi di Tanah Lahat
Ketika seluruh pekerjaan fisik dan non-fisik dinyatakan tuntas 100 persen pada akhir Mei 2026, upacara penutupan yang syahdu dipimpin langsung oleh Kasdam II/Sriwijaya, Brigjen TNI Iwan Ma'ruf Zainudin, S.E., M.M. Ia kembali menegaskan bahwa TMMD bukan hanya tentang membangun jalan atau fasilitas umum, tetapi juga tentang membangun semangat kebersamaan dan kepedulian sosial.
Secara terpisah, Panglima Kodam II/Sriwijaya, Mayjen TNI Ujang Darwis, M.D.A., menyampaikan apresiasi tertinggi atas kerja keras seluruh personel Satgas TMMD serta dukungan masyarakat Lahat. “TMMD bukan hanya membangun infrastruktur, tetapi juga membangun semangat kebersamaan, persatuan, dan kepedulian terhadap masyarakat desa,” pungkas Pangdam dengan penuh rasa bangga.

Jalan lingkar baru sepanjang 3,5 KM pasca-penutupan TMMD, siap menjadi jalur utama distribusi komoditas perkebunan dari Lubuk Tampang ke Gedung Agung.
Kini, ketika derap langkah sepatu laras mulai menjauh dari Desa Lubuk Tampang, jalan sepanjang 3,5 kilometer yang membelah batas menuju Desa Gedung Agung itu berdiri dengan gagah menantang masa depan. Air bersih mengalir tanpa henti dari sumur bor, musholah telah rapi, dan anak-anak TK dapat belajar dengan senyum ceria di ruang kelas mereka yang baru.
Prajurit TNI mungkin telah kembali ke tangsi, namun jalan lingkar baru yang memotong rantai keterisolasian itu akan tetap di sana. Menjadi saksi bahwa di atas tanah Lahat yang subur, rindu rakyat akan kemudahan dan bakti tentara telah melebur menjadi satu kekuatan tak terpatahkan mengalirkan kemakmuran bersama setiap buah sawit dan getah karet yang melintasi jalurnya.
