Skip to main content
x
TNI

TMMD 125 Membuka Jalan Baru di Tengah Rimba

 

.
Penyerahan naskah TMMD Ke 125

 

Ada perasaan ganda yang menyerangku ketika pertama kali menjejakkan kaki di Desa Pengga, Kecamatan Kayan Hilir, Kabupaten Sintang. Kekaguman bercampur dengan keprihatinan.

Sejauh mata memandang, hutan tropis khas Kalimantan membentang gagah. Pepohonan raksasa berdiri seakan menyangga langit, udara lembap membawa aroma tanah basah, dan kicau burung berpadu dengan dengung serangga yang jarang sekali kutemui di tempat lain. Bahkan kumbang-kumbang hutan, yang selama ini hanya kutemukan di layar ponsel lewat mesin pencari Google, kini hadir nyata di hadapanku.

Namun di balik keelokan itu, ada batasan yang menyesakkan. Keindahan hutan ini sekaligus menjadi penghalang. Desa-desa di pedalaman masih terisolasi, jalan setapak penuh lumpur menjadi satu-satunya penghubung. Warga hidup dalam keterbatasan akses ke pasar, ke sekolah, ke rumah sakit. Dan di situlah kisah Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-125 Kodim 1205/Sintang dimulai.


Raungan Buldoser dan Jalan Baru

.
Jalan baru sepanjang 8.500 meter dengan lebar 4,5 meter

 

Suara mesin buldoser menggelegar, memecah kesunyian rimba. Besi tajamnya menebas semak belukar, menggerus tanah, dan meratakan jalur setapak yang selama ini hanya dilalui oleh kaki-kaki penduduk.

Jalan baru sepanjang 8.500 meter dengan lebar 4,5 meter sedang dibangun. Jalan ini akan menjadi urat nadi penghubung Desa Pengga di Kecamatan Kayan Hilir dengan Desa Sungai Labi di Kecamatan Kelam Permai. Bagi sebagian orang di kota, angka itu mungkin sekadar data. Namun bagi warga pedalaman, setiap meter jalan yang terbuka adalah jembatan menuju kehidupan yang lebih baik.

“Dulu, kalau hujan deras, anak-anak sekolah terpaksa tidak bisa berangkat. Jalan licin, motor tak bisa lewat. Sekarang, kami punya harapan,” tutur seorang warga yang ikut membantu mengangkut material. Suaranya bergetar, tapi matanya berbinar.


Menyebrangi Sungai, Menyatukan Desa

.
Jembatan yang menajdi penghubung dua Desa

 

Namun perjuangan membangun jalan tak berhenti pada menebas hutan. Alam punya cara sendiri menguji tekad manusia. Anak-anak sungai yang meliuk-liuk memutus jalur, memaksa Satgas TMMD untuk mencari solusi.

Dua jembatan akhirnya dibangun di titik-titik strategis. Jembatan bukan sekadar bentang kayu atau beton yang menghubungkan dua sisi daratan. Ia adalah simbol keterhubungan, bahwa satu desa kini bisa merasakan denyut kehidupan desa lainnya.

Aku menyaksikan sendiri bagaimana prajurit dengan seragam penuh lumpur bergotong royong bersama warga. Tawa kecil terdengar di sela peluh, sebuah bukti bahwa kerja keras bisa menjadi ringan jika dilakukan bersama.


Gorong-gorong, Menantang Musim Hujan

.
Penggalian dalam tahap pembuatan gorong-gorong

 

Hujan di Kalimantan bukan main-main. Sekali turun, air bisa menggenang dan merendam jalan berminggu-minggu. Satgas TMMD tahu betul tantangan itu. Karena itulah sembilan titik gorong-gorong dibangun di sepanjang jalan baru.

Gorong-gorong ini bukan sekadar pipa besar di bawah jalan. Ia adalah pengaman, memastikan air hujan mengalir dan tidak menenggelamkan jalur transportasi. Dengan begitu, roda motor dan mobil bisa tetap berputar meski musim hujan datang.

“Kalau genangan air terlalu lama, jalan cepat rusak. Gorong-gorong ini penting untuk jangka panjang,” jelas seorang anggota teknis satgas. Kata-katanya sederhana, namun aku menangkap keseriusan di baliknya. Mereka tidak sekadar membangun hari ini, tapi juga memikirkan masa depan.


Sang Komandan dan Warga yang Setia

.
Dansatgas Kodim 1205/Sintang Letkol Inf Rangga Bayu Widiartha meninjau lokasi kegiatan TMMD

 

Di balik setiap keberhasilan, ada sosok pemimpin. Letkol Inf Rangga Bayu Widiartha, Komandan Kodim 1205/Sintang, menjadi nahkoda yang membawa seluruh satgas melewati badai tantangan. Di bawah kepemimpinannya, setiap hambatan diurai, setiap kesulitan dihadapi dengan strategi yang matang.

Namun keberhasilan TMMD ini tak hanya milik tentara. Warga desa menjadi bagian tak terpisahkan. Mereka menyediakan tenaga, bahan lokal, bahkan sekadar senyum dan dukungan moral. Semua itu menjadi energi tambahan yang tidak kalah berharga dibanding solar untuk mesin alat berat.

“Kalau bukan kami yang membantu, siapa lagi? Jalan ini juga untuk kami,” ujar seorang bapak tua sambil mengangkat kayu. Kalimat itu sederhana, tapi menyentuh. Ada kebanggaan dalam keterlibatan.


Rumah Baru, Harapan Baru

.
Kebagaian setelah menyelesaikan pembanunan RTLH

 

TMMD ke-125 tidak hanya membangun jalan. Tiga unit Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) di Desa Pengga direnovasi menjadi tempat tinggal yang lebih layak.

Aku berkunjung ke salah satunya. Dinding papan reyot yang dulu hampir roboh kini berganti tembok kokoh. Atap bocor yang sering menetes saat hujan kini sudah rapat dan aman. Senyum penghuni rumah itu menjadi bukti nyata bahwa pembangunan tidak hanya soal infrastruktur besar, tetapi juga menyentuh kehidupan sehari-hari.

“Sekarang anak-anak bisa belajar tanpa takut kehujanan di dalam rumah,” ujar seorang ibu sambil mengusap rambut anaknya. Suaranya bergetar, matanya berkaca-kaca.


Pendidikan dan Pengetahuan: Non Fisik yang Menghidupkan

.
Penyuluhan dalam kegiatan non fisik

 

Selain pembangunan fisik, TMMD juga menghadirkan program-program non-fisik. Penyuluhan kamtibmas, pertanian, hingga kesehatan diberikan kepada warga.

Di sebuah balai desa sederhana, aku menyaksikan bagaimana anak-anak muda duduk dengan serius mendengarkan penyuluhan pertanian. Mereka mencatat, bertanya, bahkan berdiskusi. Di wajah mereka, aku melihat semangat untuk belajar hal baru.

“Kalau bisa hasil sawah kami lebih baik, anak-anak bisa sekolah lebih tinggi,” kata seorang petani muda dengan penuh harapan.

Pengetahuan memang tidak kasat mata seperti jalan atau jembatan. Namun efeknya jauh lebih panjang: ia menumbuhkan kesadaran, memupuk kemandirian, dan membuka jalan baru dalam pikiran.


17 Agustus: Menanam Pohon, Menanam Masa Depan

.
Menanam pohon bersama siswa siswi SD dan guru

 

Tepat pada peringatan HUT ke-80 Republik Indonesia, Satgas TMMD bersama warga mengadakan kegiatan penanaman pohon. Aku menyaksikan anak-anak SD dengan seragam putih merah yang masih lusuh ikut menanam bibit pohon dengan tangan kecil mereka.

Ada simbol yang kuat di sana. Membuka jalan memang penting, tetapi menjaga kelestarian juga tak kalah mulia. Dengan menanam pohon, Satgas ingin memastikan bahwa pembangunan tidak merusak, melainkan berjalan beriringan dengan alam.

“Ini untuk masa depan kalian,” kata seorang guru kepada murid-muridnya sambil menepuk bahu mereka. Anak-anak itu tersenyum polos, mungkin belum sepenuhnya paham, tapi suatu saat kelak mereka akan mengerti betapa berartinya pohon-pohon itu.


Kehadiran Para Petinggi

.
Bupati Sintang, Gregorius Herkulanus Bala, serta Kasrem 121/Abw Kolonel Inf Mohamad Isnaeni, S.E., M.M tinjau lokasi

 

Momentum besar ini juga mendapat perhatian dari para pemimpin. Bupati Sintang, Gregorius Herkulanus Bala, serta Kasrem 121/Abw Kolonel Inf Mohamad Isnaeni, S.E., M.M, juga turut hadir dalam upacara penutupan. Suasana penuh khidmat. Bendera Merah Putih berkibar, mata para prajurit tegak lurus ke depan, sementara warga berdiri dengan bangga.

Hari itu, bukan hanya jalan yang diresmikan. Tetapi juga mimpi, harapan, dan rasa percaya diri warga Desa Pengga dan sekitarnya.

“Ini bukan akhir, melainkan awal dari perubahan besar bagi masyarakat. Jalan ini bukan sekadar akses, tapi jembatan menuju masa depan yang lebih baik. Bersama, kita buktikan bahwa pembangunan bukan hanya tugas pemerintah atau TNI, melainkan tugas kita semua,” ujar Bupati Sintang dalam sambutannya yang disambut tepuk tangan meriah warga.


Antara Kekaguman dan Optimisme

.
Kebahagian terpancar di wajah warga

 

Aku kembali berdiri di tepi hutan setelah semua acara usai. Rasa kagum pada keindahan alam Kalimantan masih sama. Rasa prihatin karena keterisolasian pun belum sepenuhnya hilang. Namun kini, ada satu rasa lain yang jauh lebih kuat: optimisme.

Optimisme bahwa jalan baru ini akan membuka akses pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Optimisme bahwa rumah-rumah layak huni akan menumbuhkan keluarga yang lebih bahagia. Optimisme bahwa pohon-pohon yang ditanam akan tumbuh menjaga keseimbangan alam.

TMMD ke-125 di Desa Pengga bukan hanya soal membangun jalan. Ia adalah kisah tentang keberanian menembus keterbatasan, kebersamaan antara tentara dan rakyat, serta keyakinan bahwa masa depan bisa lebih baik jika dikerjakan bersama.