Skip to main content
x
TNI

TMMD Ke-125 Kodim 1205/Sintang Menembus Rimba, Meretas Asa

Oleh : Letkol Inf Rangga Bayu Widiartha ( Dansatgas Kodim 1205/Sintang )

.

Suara raungan buldoser memecah kesunyian pagi itu. Buket tajamnya menggerus tanah basah, melumat semak belukar yang selama ini menjadi penghalang. Debu bercampur uap tanah basah menyeruak ke udara, sementara matahari baru saja merangkak naik dari ufuk timur. Di balik suara mesin yang garang, ada puluhan pasang mata yang menyaksikan: mata penuh harap dari warga Desa Pengga, Kecamatan Kayan Hilir, dan Desa Sungai Labi, Kecamatan Kelam Permai, Kabupaten Sintang.

Bukan sekadar jalan yang sedang dibuka, melainkan urat nadi baru bagi kehidupan mereka. Jalan sepanjang 8.500 meter dengan lebar 4,5 meter yang sedang dirintis oleh Satgas TMMD Ke-125 Kodim 1205/Sintang ini akan menjadi penopang masa depan. Bagi warga, jalan itu adalah pintu keluar dari keterisolasian.


Jalan yang Terbentuk dari Jejak Kaki

.
Kebahagian warga saat melihat akses jalan yang sudah terbuka

 

Sebelum buldoser datang, jalan itu sejatinya tak pernah ada. Yang ada hanyalah setapak kecil, terbentuk dari jejak kaki yang sabar menapak saban hari. Lelaki, perempuan, hingga anak-anak sekolah melaluinya, menembus semak belukar dan tanah berlumpur. Setapak itulah yang kemudian menjadi pedoman alat berat; garis samar yang kini disulap menjadi badan jalan.

Namun perjuangan membuka jalan ini bukan sekadar soal meratakan tanah. Ada anak-anak sungai yang membelah jalur, memutus jalan di tengah-tengah harapan. Di titik-titik itulah Satgas Kodim 1205/Sintang membangun dua jembatan kokoh yang akan menjadi penghubung.

Tak hanya itu, sembilan gorong-gorong juga dipasang dengan teliti. Fungsinya bukan hanya untuk drainase, tapi juga memastikan air hujan yang deras tak berubah menjadi genangan. Sebab mereka tahu, genangan adalah musuh besar: ia memperlambat, melemahkan, bahkan kadang melumpuhkan perjalanan warga.


Perjuangan yang Tak Pernah Mudah

.
Perjuangan satgas TMMD Kodim 12005/Sintang

 

“Kalau mudah, bukan perjuangan namanya,” gumam salah seorang prajurit di sela-sela istirahat. Keringatnya bercucuran, kaos lorengnya basah. Di tanah pedalaman seperti ini, cuaca kerap berubah menjadi lawan. Hujan turun tiba-tiba, membuat lumpur menelan ban truk. Material yang hendak dikirim tak jarang terhambat berhari-hari.

Namun wajah-wajah para anggota Satgas tak pernah menunjukkan tanda menyerah. Mereka tahu, jalan ini adalah kehidupan. Jalan ini akan mempersingkat perjalanan warga ke pasar, mempermudah anak-anak menuju sekolah, dan membuka akses kesehatan yang selama ini bak mimpi di siang bolong.


Sentuhan Kemanusiaan

.
Salah satu titik pembangunan RTLH

 

Meski pembangunan jalan menjadi prioritas, Satgas TMMD tak lupa pada aspek lain dari kehidupan masyarakat. Di sela-sela kerja fisik, mereka membangun tiga unit rumah tidak layak huni (RTLH) menjadi tempat tinggal baru yang lebih layak.

Bagi keluarga penerima, rumah itu bukan sekadar dinding dan atap. Ia adalah simbol kasih, bentuk nyata bahwa negara hadir di tengah mereka.

Seorang ibu paruh baya yang rumahnya direnovasi tampak menitikkan air mata. “Saya tak pernah membayangkan punya rumah sekuat ini,” ujarnya dengan suara bergetar. Para prajurit tersenyum, sebagian menepuk bahunya dengan hangat.


Kehadiran Sang Jenderal

.
Brigjen TNI Raja Beni Arifin Aritonang

 

Di tengah kerja keras itu, hadir pula Brigjen TNI Raja Beni Arifin Aritonang, Ketua Tim Wasev. Kehadirannya bagai suntikan semangat. Dalam setiap tatapan dan kata yang diucapkan, tersirat penghargaan bagi jerih payah Satgas.

“Saya melihat sendiri bagaimana kalian berjuang. Jangan pernah ragukan bahwa usaha kalian akan mengubah wajah desa ini,” ucapnya tegas. Kata-katanya menjadi bahan bakar baru bagi para prajurit yang mungkin tubuhnya lelah, tapi hatinya semakin berkobar.


Menyatu dengan Alam dan Semangat Kemerdekaan

.
Warga dan siswa siswi perayaan HUT RI Ke 80

 

TMMD Ke-125 ini berlangsung bertepatan dengan momen besar HUT Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-80. Pada 17 Agustus, bendera merah putih berkibar di tengah desa. Upacara sederhana digelar, namun maknanya dalam.

Selepas upacara, para prajurit bersama guru, perangkat desa, dan anak-anak sekolah menanam pohon di sekitar jalur jalan. Tangan-tangan kecil siswa SD itu menimbun tanah di akar bibit pohon dengan penuh semangat. Ada kebanggaan tersendiri, seakan mereka sedang menanam harapan untuk masa depan yang hijau dan lestari.

“Jalan boleh kita buka, tapi hutan harus kita jaga,” kata salah seorang anggota Satgas. Kalimat itu menjadi pengingat bahwa pembangunan dan kelestarian alam harus berjalan beriringan.


Menyentuh Aspek Non Fisik

.
Penyuluhan dalam kegiatan Non fisik

 

Tak hanya pembangunan fisik, TMMD Ke-125 juga menyalakan obor pengetahuan. Di balai desa, berbagai penyuluhan digelar. Penyuluhan kamtibmas diberikan agar warga memahami pentingnya keamanan dan ketertiban. Penyuluhan pertanian membekali petani dengan teknik baru yang bisa meningkatkan hasil panen. Sementara penyuluhan kesehatan membantu masyarakat lebih peka terhadap pola hidup sehat.

Di balik penyuluhan itu, tampak wajah antusias warga. Mereka mencatat, bertanya, bahkan beberapa mengulang-ulang kalimat penting. Semua sadar, ilmu adalah bekal lain yang tak kalah penting dari jalan dan rumah.


Sebuah Perayaan

.
Penyerahan naskan TMMD ke 125 Kodim 1205/Sintang

 

Hari itu tiba upacara penutupan TMMD Ke-125. Lapangan desa yang sederhana berubah menjadi saksi sejarah. Bupati Sintang, Gregorius Herkulanus Bala, hadir memberi penghargaan bagi Satgas. Turut hadir Kasrem 121/Abw, Kolonel Inf Mohamad Isnaeni, S.E., M.M.

Suasana terasa khidmat namun hangat. Bupati menyampaikan, “Apa yang dilakukan Satgas TMMD bukan sekadar pembangunan, tapi juga membangkitkan semangat gotong royong dan persaudaraan di tengah masyarakat.”

Para prajurit berdiri tegak, loreng mereka basah oleh keringat perjuangan. Di balik barisan itu, ada senyum warga, ada harapan baru yang mengalir.


Jejak yang Tak Akan Hilang

Kini, jalan itu sudah terbuka. Buldoser telah berhenti, gorong-gorong terpasang, jembatan berdiri kokoh, dan rumah-rumah baru siap dihuni. Namun yang paling berharga bukan hanya infrastruktur, melainkan jejak perjuangan yang ditinggalkan.

TMMD Ke-125 Kodim 1205/Sintang bukan hanya tentang membangun jalan dan rumah, tapi juga tentang membangun harapan, memupuk persaudaraan, dan menyalakan kembali semangat kemerdekaan di pelosok negeri.

Jalan itu kini bukan lagi sekadar tanah yang diratakan. Ia telah berubah menjadi saksi bahwa ketika prajurit dan rakyat bersatu, tak ada batas yang tak bisa ditembus.