P3K di Blok Rutan: Gagasan Inovatif Taruna Poltekip
Bengkulu – Dalam rangka mendukung peningkatan kualitas pelayanan kesehatan di lingkungan pemasyarakatan, dua taruna tingkat III Politeknik Pengayoman Indonesia (Poltkepin), Muhammad Sakha Koswira dan Harry Rahman Saputra Tanjung, menginisiasi program inovatif melalui kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Rumah Tahanan Negara Kelas IIB Bengkulu. Program tersebut diwujudkan melalui implementasi kotak Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) di setiap pos blok hunian warga binaanyang mulai ditempatkan pada Senin (28/7).
Langkah ini diambil sebagai respons terhadap kebutuhan layanan kesehatan dasar yang cepat, tepat, dan terjangkau bagi warga binaan, sekaligus sebagai bagian dari upaya mewujudkan pelayanan pemasyarakatan yang humanis dan berorientasi pada pemenuhan hak-hak dasar narapidana.
Kotak P3K yang disediakan di setiap pos blok hunian dilengkapi dengan perlengkapan dasar medis seperti perban, plester, kapas, cairan antiseptik, obat luka, serta alat bantu lain yang dibutuhkan dalam situasi darurat. Penempatan kotak ini tidak hanya bersifat simbolis, tetapi juga dibarengi dengan edukasi penggunaan kepada petugas jaga blok dan warga binaan yang berperan sebagai kader kesehatan.
Menurut Muhammad Sakha Koswira, program ini diharapkan dapat membantu petugas dalam memberikan pertolongan pertama dalam kondisi kegawatdaruratan di blok hunian warga binaan.
“Dengan adanya kotak P3K di setiap pos blok, penanganan awal terhadap luka ringan, pingsan, atau kondisi darurat lainnya diharapkan bisa segera dilakukan sebelum mendapatkan penanganan lanjutan oleh tim medis rutan,” ujarnya.
Senada dengan itu, Harry Rahman menambahkan bahwa keberadaan kotak P3K di blok hunian juga merupakan upaya preventif terhadap risiko kesehatan yang mungkin terjadi di lingkungan tertutup seperti rutan. “Ini adalah bagian dari pelayanan minimum yang harus ada di setiap satuan kerja pemasyarakatan, dan kami berharap program ini bisa menjadi model berkelanjutan,” tambahnya.
Kepala Rutan Kelas IIB Bengkulu, Yulian Fernano mengapresiasi inisiatif para taruna Poltekip tersebut. Ia menilai langkah ini sejalan dengan semangat reformasi birokrasi dan peningkatan kualitas layanan publik di lingkungan Kemenimipas khususnya Direktorat Jenderal Pemasyarakatan. “Inovasi ini merupakan bentuk kontribusi nyata dari generasi muda calon petugas pemasyarakatan dalam mewujudkan Rutan yang lebih sehat, responsif, dan peduli terhadap hak-hak warga binaan,” ungkap Yulian.
Program ini juga sejalan dengan prinsip dasar pemasyarakatan yang menekankan pentingnya perlakuan manusiawi serta pemenuhan kebutuhan dasar, termasuk kesehatan. Dengan adanya kotak P3K di setiap pos blok, diharapkan penanganan medis awal tidak lagi bergantung penuh pada petugas medis, melainkan bisa dilakukan secara kolaboratif dan cepat oleh petugas jaga maupun warga binaan yang telah diberi pelatihan dasar.
"Kegiatan ini menjadi contoh nyata bagaimana pelaksanaan KKN oleh taruna pemasyarakatan tidak hanya bersifat akademis, tetapi juga memberikan dampak langsung dan berkelanjutan bagi lingkungan kerja pemasyarakatan. Harapannya, inovasi serupa bisa diadopsi oleh rutan dan lapas lain di seluruh Indonesia," pungkas Yulian.
