Sejarah Islam di Bengkulu: 40 Tokoh Agama dan Organisasi Islam
Wartaprimacom - Masuknya Islam ke Bengkulu tidak terlepas dari perkembangan Islam di Indonesia sejak abad ke-13 yang dirintis dari abad ke-8. Islam yang hadir di Bengkulu tidak terlepas dari kesultanan- kesultanan yang berada di pulau Sumatra atau pulau Jawa. Karena Islam pertama hadir di pulau Sumatra, jelas memberikan pengaruh dalam perjalanan Islam di Bengkulu. Di pulau Sumatra sendiri bermunculan berbagai kerajaan Islam seperti Kesultanan Perlak, Kesultanan Samudra Pasai, Kesultanan Aceh Darussalam, Kesultanan Minangkabau, Kesultanan Palembang Darussalam, Kesultanan Siak Indrapura, Kesultanan Pagaruyung.
Selain itu ada juga Kesultanan Banten yang memberikan pengaruh di Bengkulu.
Di Bengkulu sendiri terdapat beberapa kerajaan seperti Kerajaan Sungai Serut, Kerajaan Sungai Lemau, Kerajaan Sungai Itam, Kerajaan Selebar, Kerajaan Mukomuko, Kerajaan Pinang Berlapis, Kerajaan Rejang Pat Petulai/Depati Tiang Empat dan Kerajaan Kaur.
Syiar Islam di Bengkulu berdasarkan bukti-bukti yang ditemukan berlangsung pada abad ke-XIV walaupun dimungkinkan sebelum itu Islam telah masuk.
Informasi para ulama atau tokoh penyebar Islam masih terbatas karena data-data tentang itu cukup sulit terlacak,
tetapi dalam tulisan ini tetap disajikan nama ulama atau para tokoh penyebar Islam di Bengkulu dari abad XIV-XX tetapi dengan fokus ulama abad ke-XX.
Selanjutnya disajikan masjid-masjid dari abad XVII-XX tetapi dengan fokus masjid abad ke XX tepatnya masjid yang dibangun pra-kemerdekaan. Dan dilanjutkan dengan pesantren-pesantren yang di bangun abad ke-XX dan abad ke- XXI.
Masuknya Islam ke Bengkulu mengenai dari mana asalnya, siapa penyebarnya dan kapan masuknya, dapat diklasifikasikan menjadi beberapa teori, yaitu pertama teori Aceh, kedua teori Palembang, teori Minangkabau dan teori Banten.
Pertama, teori Aceh berdasarkan argumentasi bahwa Islam dibawa ulama dari Aceh bernama Tengku Malin Muhidin tahun 1417 M ke Kerajaan Sungai Serut dan melalui dominasi Aceh dalam perdagangan rempah-rempah abad ke-17 serta di situs makam Gresik Dusun Kaum Gresik, Desa Pauh Terenjam, Kecamatan Mukomuko
terdapat sembilan buah makam, dua diantaranya menggunakan nisan tipe Aceh.
Kedua, teori Palembang berdasarkan argumentasi bahwa Islam dibawa Kesultanan Palembang dibuktikan dengan pengakuan masyarakat sebagai keturunan dari Kesultanan Palembang dan di wilayah Rejang Lebong terbukti ditemukannya piagam Undang-Undangdari tembaga dengan aksara Jawa Kuno, yang berangka tahun 1729
Saka atau 1807 Masehi Kesultanan Palembang dan hubungan kerajaan Palembang Darussalam dengan Raja Depati Tiang Empat di Lebong.
Ketiga, teori Minangkabau berdasarkan argumentasi bahwa Islam masuk melalui perkawinan Sultan Muzaffar Syah, Raja dari Kerajaan Indrapura dengan Putri Serindang Bulan, puteri Rio Mawang dari Kerajaan Lebong (1620-1660), datangnya Bagindo Maharaja Sakti dari Kesultanan Pagaruyung abad XVI dan menjadi Raja Sungai Lemau dan kesultanan muko-muko dibawah pengaruh Kesultanan Indrapura Sumatra Barat.
Keempat, teori Banten melalui persahabatan antara Kerajaan Banten dengan Kerajaan Selebar dan perkawinan antara Raja Pangeran Nata Di Raja dengan Putri Kemayun, puteri Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten (1668).
Proses masuknya Islam di pengaruhi oleh kesultanan yang berkuasa di sekitarnya baik Kesultanan Aceh, Kesultanan Banten, Kesultanan Palembang, Kesultanan Indrapura dan Kesultanan Pagaruyung. Selain jalur politik juga menggunakan jalur perdagangan, perkawinan dan dakwah. Dalam jalur dakwah tidak terlepas dari dakwah para ulama atau tokoh agama baik dengan mendirikan masjid, madrasah, pesantren maupun organisasi sosial keagamaan.
a. Ulama atau Tokoh Agama Islam
Ulama adalah pemuka agama atau pemimpin agama yang bertugas untuk mengayomi, membina dan membimbing umat Islam baik dalam masalah-masalah agama maupum masalah sehari hari yang diperlukan baik dari sisi keagamaan maupun sosial kemasyarakatan. Ulama atau tokoh agama mulai dari abad 14 sampai abad 20 yaitu:
1. Imam Maulana Ichsad (tahun 1336)
Beliau ulama keturunan Ali Zainal Abidin bin Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib. Datang di Bandar Sungai Serut Bengkulu pada hari Kamis tanggal 5 Januari 1336 M/18 Jumadil Awwal 736 H. Ia sebagai pelopor pelaksana upacara tabut di Bengkulu. Beliau berdakwah di Bengkulu walaupun akhirnya ia kembali ke Makkah Arab Saudi.
2. Syekh Abdurrahman/Ampar Batu (w.1336 M)
Merupakan salah satu ulama yang ikut rombongan dari Imam Maulana Ichsad dan berdakwah di Bengkulu. Wafat hari Kamis tanggal 12 April 1336 M/ 21 Sya’ban 736 H yang makamnya terdapat di Karbela Bengkulu.
3. Syahbedan/Syahbudin Abdullah
Tokoh agama yang melakukan dakwah di Bengkulu dan pelanjut tradisi tabut dari Maulana Ichsad, Bakar dan Imam Sobari. Dimakamkan di Karbela Kota Bengkulu.
4. Burhanudin Imam Senggolo
Sebagai tokoh agama dan anaknya dari Syahbedan yang berikutnya mempertahankan dan melanjutkan tradisi tabut di Bengkulu. Dimakamkan di Karbela Kota Bengkulu.
5. Syech Mutla
Beliau berdakwah di Mukomuko. Makamnya berada di Desa Sungai Gading Kec Selagan Raya Kab Muko-Muko. Makam tersebut ditandai dengan dua nisan batu berbentuk silindris dan jirat makam dari susunan batu andesit tanpa spesi. Makam ini sudah diberi cungkup sehingga dapat menimalisir pengaruh perubahan cuaca. Nisan bagian utara dengan tinggi 34 cm dan bagian selatan dengan ketinggian 27 cm. Dibagian dalam kedua nisan tersebut
diletakan kerang. Jarak antar nisan 6 meter.
6. Tengku Malim Muhidin (1417)
Seorang da’i dari Aceh yang datang ke Gunung Bungkuk Sungai Serut Awi, kawasan Lematang Ulu. la berhasil mengislamkan Ratu Agung, penguasa Kerajaan Sungai Serut saat itu.
7. Imam Padang
Imam Padang berdakwah di Mukomuko. Makamnya berjarak 200 meter dari Sungai Selagan. Ukuran jirat yaitu panjang 490cm, lebar 200 cm dan tebal 39 cm. Kedua nisan terbuat dari monolit dengan orientasi utara-selatan.
8. Syech Muhammad Alim
Beliau berdakwah di Bengkulu Tengah. Makamnya berada di kompleks raja-raja Sungai Lemau. Lokasinya dekat dengan Balai Buntar,berjarak 75 meter. Dahulunya kompleks pemakaman ini nisan-nisannya terbuat dari batu-batu karang, yang disebut “Batu Aceh”. Terdapat makam Raja Aria, makam Baginda Maharaja Sakti, makam Putri Gading Cempaka, makam Pangeran Maksah, makam Haris Fadilla, dan makam-makam lainnya.
9. Syech Abdur Rahman
10. Syekh Muhammad Amin
Syech Muhammad Amin berasal dari pulau Nias Sumatra Utara. Ia berdakwah dari Padang, Palembang, Kota Bengkulu hingga di Manna. Beliau memiliki tujuh orang istri dan mendirikan Masjid al- Manar Manna. Wafatnya tahun 1920 di makamkan di Kel Pasar Bawah Kec Pasar Manna.
11. Haji Fikir Daud
Beliau ketua gerakan Muhammadiyah di Bintuhan. Rumahnya masih ada sampai sekarang di Jl. K.H. Fikir Daud Kel Bandar Kec. Kaur Selatan. Ia mendirikan sebuah surau yang sekarang Masjid Tua Bandar tahun 1920- an. Ia lahir pada tahun 1900 dan wafat pada tahun 1982 adalah alumni pendidikan agama Islam di Thawalib Parabek Sumatra Barat.
12. Sentot Alibasyah
Pada tanggal 24 Oktober 1829, saat upacara militer di keraton, Pangeran Sentot Alibasya ditangkap oleh kolonial
Belanda. Kemudian dibawa ke Sumatera Barat dan dipaksa melawan pasukan Paderi yang saat itu dipimpin oleh Imam Bonjol. Saat menjadi tawanan, dengan kecerdasannya ia berhasil menghubungi salah satu anak buah Imam Bonjol untuk bergabung dengan pasukan Paderi. Pangeran Sentot Alibasyah dan pasukan Paderi mengadakan
kerjasama untuk mengusir pasukan kolonial Belanda dari pulau Sumatera. Namun siasat ini diketahui oleh Belanda. Akhirnya Pangeran Sentot Alibasya dibawa kembali ke Batavia untuk diadili. Pimpinan kolonial Belanda memutuskan untuk membuangnya sebagai tawanan pengasingan di Bengkulu pada tahun 1833. Akhirnya Panglima muda kebanggaan Diponogoro ini meninggal di pengasingan pada tahun 1855. Di makamkan di kelurahan Bajak Kecamatan Teluk Segara Kota Bengkulu. Beliau mengajarkan agama Islam kepada penduduk setempat.
13. Said Ibrahim (1719)
Pengikut Said Ibrahim terlibat dalam melawan pemerintah Inggris pada malam tanggal 23 Maret 1719 bersama pasukan suku Lembak di bawah pimpinan putra Pangeran Nata Diraja dengan menyerang Benteng Fort Marlborough.
14. Ulama Sidi (1835)
Tokoh agama yang menjadi penggerak peristiwa Tabat Mono tahun 1835 dalam melawan kolonial Belanda di Bengkulu. Tabat mono sekarang dikenal dengan nama Tebat Monok adalah nama dusun di Bengkulu Tengah.
15. Haji Merdayan (1873)
Tokoh agama yang menjadi penggerak peristiwa Tanjung Terdana tahun 1873 dalam melawan kolonial Belanda di Bengkulu. Tanjung Terdana adalah salah satu dusun dibawah Afdeling Sungai Itam.
16. Haji Meradoen (1873)
Haji Meradoen bersama Ketip Payung adalah tokoh agama yang menjadi penggerak peristiwa Bintunan tahun 1873 dalam melawan kolonial Belanda di Bengkulu. Bintunan salah satu distrik di bawah Afdeling Lais masa Belanda.
17. Abdul Syukur (1527)
Beliau kerabat Asuanda/Kasunda berasal dari Dusun Taba Pingin Palembang dan berdakwah di wilayah Sungai Hitam hingga ke Lembak Delapan.
18. Said Hadi al-Jafri
Ia berdakwah di Desa Sukaraja Kaur sekitar tahun 1930 dan meninggal tahun 1972. Dimakamkan di samping masjid Nurul Ikhsan Sukaraja.
19. Kyai Haji Abdul Hamid Merogan
Beliau berasal dari Palembang yang menyebarkan Islam di Rejang Lebong dan hidup antara tahun 1825-1890.
20. Haji Abdurrahman Delamat
Ia berasal dari Muara Ogan yang meneruskan dakwah Haji Abdul Hamid Merogan di Rejang Lebong. Tempat dakwah beliau di Kepala Curup, Tebat Monok, Kesambe, Despetah, Keban Agung dan Ujan Mas.
21. KH. Husein
Beliau Murid Syekh Muhammad Amin dan meneruskan dakwah di Marga Muara Saung dengan mendirikan masjid, berdakwah, mengajar ngaji, membaca kitab al-barzanji dll. Berdakwah dari tahun 1937-1951di Muara Sahung.
22. KH. Yusuf Azis
Beliau ulama dari medan dan penggagas berdirinya Ponpes Darussalam Kota Bengkulu tahun 1975. Wakaf tanah untuk ponpes di diberikan oleh sahabatnya KH Abu Bakar.
23. Syeikh Radhi
Dikenal dengan nama Syeikh Embacang Batu yang mendirikan “langgar tarbiyah” di Bintuhan yang berfungsi sebagai tempat olah ruksyah bersama-sama muridnya, termasuk diantaranya Pangeran Sebrani Puyang Kaur.
24. Sayid Ahmad
Sayid Ahmad berasal dari Hadramaut Yaman berdakwah di Kaur tahun 1816-1821.
25. Haji Wahid
26. Syech Serunting
Kesenian Sarafal Anam kebudayaan yang bernuansa Islam dan pertama kali diperkenalkan oleh penyebar Islam bernama Syech Serunting biasa dipanggil masyarakat Lembak sekitar abad ke-17. Kesenian Sarafal Anam masuk beriringan dengan masuknya Islam ke Bengkulu.
27. Habib Alwi40
Ia anak dari Sayid Ahmad pernikahannya dengan Aliyah yang melanjutkan proses islamisasi ayahnya di Kaur.
28. Syech Ali
Berasal dari Hadramaut Arab yang berdakwah di Kaur dan mempelopori pembangunan masjid Asy-Syakirin Bintuhan tahun 1925-1928.
29. Haji Mohamad
30. Haji Muhammad Yunus
Haji Muhammad Yunus dari Pasar Melintang sebagai salah satu anggota komisi pengawasan penasehat hukum Islam yang disebut “hoofd penghulu landraad” di Bengkulu masa Belanda tahun 1914.
31. KH. Abd Rauf
32. KH. Ismail
33. Syech Abdullah Kyai
Situs Makam Syech Abdullah Kyai terletak di Desa Lubukbangko, Kecamatan Selagan Raya. Keadaan makam telah dipugar, identifikasi dari nisan makam yang merupakan batu monolit.
34. Prof. Ibrahim Hosen
Ia dilahirkan di Tanjung Agung Bengkulu tahun 1920 dari keluarga Haji Mohd Hosen. Pendidikannya dimulai dari madrasah Jamiatul Chair Jakarta dan tahun 1936 mengajar di Jamiatul Chair Bengkulu.
Pendidikannya dilanjutkan di al-Azhar Kairo Mesir tahun 1956. Setelah menyelesaikan pendidikan ia menjadi pegawai di Depag dan nantinya di angkat menjadi kepala kantor agama daerah Bengkulu lalu pindah tugas ke Palembang dan ke Jakarta. Beliau juga salah satu penggagas berdirinya cabang fakultas IAIN Raden Fatah di Bengkulu dan bersama Yusuf Abdul Azis mendirikan Ponpes Darusalam di Kota Bengkulu.
35. KH. Abdul Muthalib
Ia dilahirkan di Dusun Kerkap Bengkulu Utara tanggal 31 Agustus 1908. Menamatkan sekolah kelas II (Vorvolgschool) pada tahun 1921 dan setahun kemudian berangkat menunaikan ibadah haji. Tahun 1931 ia berangkat ke candung bukit tinggi melanjutkan pendidikannya di madrasah tarbiyah islamiyah di bawah pimpinan Syekh Sulaiman al-Rasuli. Setelah pulang ia mendirikan madrasah tarbiyah di Kerkap dan Aur Gading. Masa kependudukan Jepang sebagai anggota chuo sangi kai dan majelis Islam Bengkulu. Masa revolusi fisik ikut perang gerilya. Selanjutnya ia di angkat menjadi kepala kantor urusan agama, anggota DPRD, anggota DPD dan menjadi Ketua Pengadilan Mahkamah Syariah Bengkulu.
36. Buya Syekh Zainal Arifin
Beliu berasal dari Ketahun Bengkulu Utara yang mendirikan rumah suluk di Bengkenang pada tahun 1994, di Desa Suka Datar Curup dan di Bajak Kota Bengkulu. Ia meninggal pada tahun 2003.
37. KH. Nawawi
Beliau belajar di Madrasah Darul Ulum al-Diniyyah Mekkah selama enam tahun (1939-1942), madrasah yang sangat dipengaruhi oleh tradisi mahzab syafi’i. Beliau menjadi perintis madrasah tsanawiyah Nurul Huda yang mencadi cikal bakal MTsN 1 Kota Bengkulu dan menjadi kepala sekolah periode 1960-1967 dan 1968-1974. Beliau juga memimpin pesantren Pancasila Bengkulu dari tahun 1975-1984. Selain itu beliau sering mengisi ceramah dan membina masjid-masjid di Kota Bengkulu.
38. KH. Djalal Suyuthie
Beliau sebagai salah satu tokoh Muhammadiyah Bengkulu mendapatkan pendidikan agama dari ayahnya yang pernah belajar di Mekkah dan di sekolah Mualimin Muhammadiyah Yogyakarta. Selanjutnya menjadi kepala sekolah PGA Mualimin Bengkulu tahun 1972-1975. Juga mengajar di STKIP Muhammadiyah dan Fakultas Syari’ah Yaswa Bengkulu.
39. KH. Djam’an Nur
Lokus keilmuan beliau beragam yakni pesantren, perguruan tinggi, masjid dan surau sufi. Pendidikan formalnya di MMT Candung, SP PTAIN dan PTAIN Yogyakarta. Dalam pengembangan islam terlibat dalam pendirian Fakultas Ushuluddin Curup, Fakultas Syariah, Tarbiyah Bengkulu dan MTS Kota Donok. Karirnya dimulai dari pembantu Dekan Fak Ushuluddin Curup, Dekan Fak Syariah Bengkulu dan Direktur Pesantren Depag tahun 1989-2006. Selain itu ia aktif di organisasi NU.
40. KH. Badrul Munir Hamidy
Pendidikannya di mulai di PGA Palembang 1963. Menjadi dekan Fakultas Tarbiyah dan Ketua STAIN Bengkulu 1997-2002. Ia juga mendirikan Ponpes Roudotul Ulum di Seluma dan aktif di NU.
Penulis: Ahmad Abas Musofa (Dosen Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu)
