80 Tahun Peristiwa Merah Putih: Dari Lapangan KONI Sario, Seruan Lawan “Penjajah” Baru Menggema
Manado,WartaPrima.com-Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara memperingati 80 tahun Peristiwa Merah Putih dengan upacara khidmat di Lapangan KONI Sario, Manado, Sabtu (14/2/2026).

Momentum ini ditegaskan bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan pengingat tegas bahwa semangat perlawanan rakyat Sulut tidak boleh luntur oleh zaman.
Upacara dipimpin langsung Gubernur Sulut, Yulius Selvanus Komaling, dan dihadiri unsur Forkopimda, TNI–Polri, para veteran, pimpinan DPRD, kepala daerah se-Sulut, serta tokoh agama dan masyarakat. Kehadiran para pejuang dan keluarga pahlawan menjadi penanda bahwa sejarah adalah fondasi karakter daerah.

Turut hadir dalam upacara tersebut Wali Kota Kotamobagu, Weny Gaib. Kehadiran orang nomor satu di Kota Kotamobagu itu menjadi bentuk komitmen pemerintah daerah dalam menjaga dan merawat nilai-nilai perjuangan yang telah diwariskan para pahlawan.
Peristiwa 14 Februari 1946 di Tangsi Militer Teling kembali ditegaskan sebagai tonggak keberanian rakyat Sulawesi Utara melawan dominasi kolonial. Aksi perobekan warna biru pada bendera penjajah dan pengibaran Merah Putih menjadi simbol bahwa tanah Nyiur Melambai tidak pernah tunduk pada penindasan.

Gubernur menegaskan, delapan dekade Peristiwa Merah Putih adalah bukti ketangguhan karakter orang Sulut.
“Semangat ini harus hidup dalam kebijakan, dalam pelayanan publik, dan dalam keberpihakan kepada rakyat,” tegasnya.
Nama-nama pejuang seperti Charles Choesj Taulu, Servius Dumais Wuisan, Mambi Runtukahu, dan Bernard Wilhelm Lapian kembali digaungkan sebagai simbol keberanian yang tak tergantikan. Aksi heroik mereka disebut sebagai “proklamasi kedua” bagi rakyat Sulawesi Utara.

Mengusung tema “Bhakti Kami Demi Pertiwi, dari Sulut untuk Nusantara”, peringatan tahun ini diarahkan pada konsolidasi kekuatan daerah. Pemerintah menekankan bahwa semangat 1946 harus diterjemahkan dalam kerja nyata, bukan sekadar pidato seremonial.
Tiga pesan strategis disampaikan kepada seluruh elemen masyarakat.
Pertama, memperkuat literasi sejarah agar generasi muda tidak tercerabut dari akar jati dirinya.
Kedua, membangun sinergi tanpa ego sektoral antara pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat.
Ketiga, mentransformasikan semangat juang untuk menghadapi “penjajah” masa kini: kemiskinan, ketimpangan, dan perpecahan sosial.

Kehadiran Wali Kota Kotamobagu dalam upacara tersebut sekaligus menegaskan bahwa semangat Merah Putih bukan hanya milik masa lalu, tetapi menjadi kompas moral bagi seluruh kepala daerah di Sulawesi Utara untuk bekerja lebih tegas, berpihak pada rakyat, dan menjaga persatuan.
Peringatan 80 tahun ini menjadi alarm kolektif bagi Sulawesi Utara. Bahwa kemerdekaan bukan warisan yang selesai diperjuangkan, melainkan amanah yang harus terus dijaga—dengan keberanian, persatuan, dan kerja nyata demi kesejahteraan rakyat.(Bams*/)
