Skip to main content
x
TNI

Jalan Cinta dari Tentara untuk Desa Wanagiri

Oleh :  Letkol Inf Riza Taufiq Hasan, S.I.P, (Dansatgas Kodim 1619/Tabanan)

.

 

Di pagi yang masih berselimut kabut, deru mesin molen bersahut-sahutan dengan tawa para prajurit yang bahu-membahu menuangkan adonan beton ke jalanan berlumpur. Desa Wanagiri, yang selama ini terpinggirkan dalam peta pembangunan, kini menyaksikan keajaiban yang tak pernah mereka bayangkan. Bukan hanya sebuah jalan yang sedang dibangun, tetapi sebuah jembatan harapan yang menghubungkan mimpi dan kenyataan.

Perjuangan di Setiap Meter Jalan

.
Dansatgas Kodim 1619/Tabanan memberikan semangat kepada anggota satgas TMMD

 

Letkol Inf Riza Taufiq Hasan, pemimpin Satgas TMMD ke-123, berdiri tegap di tengah kerumunan prajurit dan warga desa. Dengan tatapan penuh semangat, ia menatap jalan yang perlahan berubah dari tanah becek menjadi jalur kokoh sepanjang 855 meter. “Ini bukan sekadar jalan,” ujarnya sambil mengusap keringat di pelipis, “ini adalah harapan. Harapan agar Wanagiri lebih maju, harapan agar anak-anak di sini memiliki masa depan yang lebih baik.”

Di sudut lain, Kapten Kav Bekti Aji Sayekti mengawasi pelebaran jalan dari tiga meter menjadi lima meter. Jalan ini, yang dulunya hanya cukup dilalui satu motor dengan hati-hati, kini akan mampu menampung kendaraan roda empat. Dengan mata berbinar, ia berkata, “Bayangkan anak-anak bisa berangkat sekolah lebih mudah, petani bisa mengangkut hasil panen lebih cepat, dan ekonomi desa bisa berkembang lebih pesat.” Warga yang mendengar itu mengangguk penuh harap, seolah melihat masa depan cerah yang semakin mendekat.

Rumah Layak, Hidup yang Lebih Bermakna

.
Pengawasan langsung oleh Dansatgas dalam pembangunan RTLH

 

Namun, TMMD ke-123 bukan hanya tentang jalan. Ini tentang kehidupan yang berubah. Di sebuah rumah sederhana di Banjar Wanigiri, I Putu Sudiantara Giri berdiri di depan rumahnya yang baru direnovasi. Rumah Tidak Layak Huni yang dahulu bocor di sana-sini, kini berdiri kokoh dengan dinding yang lebih kuat dan atap yang tak lagi mengkhawatirkan. Dengan mata berkaca-kaca, ia menggenggam tangan seorang prajurit muda. “Terima kasih, Pak Tentara. Saya tak pernah menyangka bisa tinggal di rumah sebagus ini,” katanya dengan suara bergetar. Sang prajurit tersenyum, menyadari bahwa keringat dan tenaga yang ia curahkan benar-benar mengubah hidup seseorang.

Air Bersih untuk Masa Depan

.
Letjen TNI Sonny Aprianto Ketua Tim Wasev tinjau bak penampungan air bersih

 

Tak jauh dari sana, mata air kehidupan digali dalam-dalam. Sepuluh sumur bor siap memberikan air bersih bagi warga yang selama ini harus berjalan jauh demi setetes kehidupan. Di Desa Sangketan, dua pompa hydran kini berdiri tegak, siap mengaliri sawah-sawah yang selama ini merindukan air. Para petani tersenyum lebar, membayangkan hasil panen mereka yang tak lagi terancam oleh musim kering.

Penyuluhan: Membekali Masyarakat dengan Ilmu

.
Penyuluhan kegiatan non fisik TMMD kodim 1619/Tabanan

 

Sementara itu, di balai desa, suara canda anak-anak bergema. Mereka sedang mengikuti penyuluhan tentang bahaya narkoba dan kenakalan remaja. Seorang prajurit bercerita dengan gaya teatrikal, membuat anak-anak terpingkal namun tetap menyerap pesan serius yang disampaikan. Di ruangan lain, para ibu mendengarkan penyuluhan kesehatan dan stunting, berharap bisa memberikan masa depan yang lebih baik bagi anak-anak mereka. “Ini bukan sekadar ilmu, ini adalah bekal hidup,” kata salah seorang ibu dengan antusias.

Menghijaukan Desa, Menanam Harapan

.
Satgas Kodim 1619/Tabanan lakukan penanaman pohon

 

Dan di balik hiruk-pikuk pembangunan, sebuah tangan-tangan lembut menanam harapan. Lima puluh pohon alpukat, seratus pohon nangka, seratus lima puluh cempaka, dan seratus mahoni ditanam dengan penuh cinta. “Ini untuk anak cucu kita,” bisik seorang warga, tangannya penuh dengan tanah yang masih hangat. Pohon-pohon ini akan tumbuh menjadi saksi bisu perjuangan yang pernah terjadi di desa ini.

Kebersihan untuk Kehidupan yang Sehat

Di pasar Desa Bajera, prajurit dan warga bekerja bersama, membersihkan setiap sudut dari sampah yang menumpuk. Tak jauh dari sana, di sungai Yeh Otan, mereka bergotong royong mengangkat batang-batang kayu dan plastik yang menghalangi aliran air. “Sungai ini adalah sumber kehidupan kita,” ujar seorang warga, tersenyum melihat air kembali mengalir lancar. Dan di tengah riuh rendah itu, seratus paket sembako dibagikan kepada anak-anak kurang mampu, senyum mereka secerah matahari yang mulai merayap ke langit siang.

Kedekatan dan Kebersamaan

Siang itu, di bawah terik matahari yang menyengat, prajurit Satgas TMMD dan warga Desa Wanagiri berkumpul di lokasi kegiatan. Dengan senyum hangat, Letkol Inf Riza Taufiq Hasan, Dansatgas TMMD ke-123, mengeluarkan beberapa topi rimba dari tasnya.

.
Kedekatan Dansatgas Kodim 1619/Tabanan dengan warga

"Ini untuk bapak-bapak yang telah bekerja keras bersama kami," katanya sambil menyematkan sebuah topi rimba di kepala seorang warga paruh baya yang berkeringat namun penuh semangat.

Warga itu tersenyum lebar, merasa bangga dan dihargai. "Terima kasih, Pak Dansatgas. Ini akan selalu saya kenang," ujarnya dengan mata berbinar. Momen ini menjadi bukti eratnya hubungan antara prajurit dan warga—bukan hanya sebagai pekerja dan pemimpin, tapi sebagai saudara yang berjuang bersama.

TMMD: Simbol Perubahan Nyata

.
Dansatgas memberikan kunci RTLH secara simbolis

TMMD ke-123 bukan sekadar program tahunan. Ini adalah kisah tentang tangan-tangan kasar yang membangun dengan hati. Tentang prajurit yang bukan hanya membawa senjata, tapi juga membawa harapan. Dan tentang desa yang kini tak lagi terpinggirkan, melainkan berdiri tegak dengan kepala penuh harapan.