Skip to main content
x
TNI

Jejak-jejak Harapan di Larantuka

Catatan Dansatgas TMMD Ke-124 Kodim 1624/Flotim
Letkol Inf M. Nasir Simanjuntak, S.Ag., M.I.P.


 



.

Langit pagi Larantuka seolah menari ringan di antara bayang pepohonan yang perlahan disibak cahaya mentari. Embun menggantung di ujung daun, berkilau bagai jutaan kristal kecil yang bersaksi atas awal yang baru. Dari kejauhan, suara ayam jantan beradu dengan langkah kaki warga yang bergerak antusias menuju lapangan upacara. Hari itu bukan hari biasa. Ia adalah permulaan dari sesuatu yang lebih besar TMMD Ke-124 resmi dimulai.

Aku melangkah perlahan di atas jalan setapak yang masih berlumpur, menyaksikan wajah-wajah penuh harap yang berdiri di pinggir lapangan. Mereka menyambut kami satgas TMMD Kodim 1624/Flotim dengan tatapan hangat dan senyum yang menyalakan semangat. Dua kelurahan menjadi panggung kisah ini Sarotari dan Puken Tobi Wangibao, dua titik di peta yang akan mencatat jejak perubahan.

Di sanalah, kami datang membawa misi besar  membuka jalan baru sepanjang 4.000 meter dengan lebar 8 meter, menyediakan dua sumur bor yang akan menjadi sumber kehidupan baru, serta merenovasi rumah tak layak agar kembali menjadi tempat berteduh yang layak. Namun lebih dari sekadar alat berat dan adukan semen, kami membawa sesuatu yang lebih dalam harapan, yang mengalir pelan seperti angin timur yang menyapa lembut pepohonan.

Saat itu, di tengah barisan yang tegap dan langkah yang tertata rapi, terdengarlah suara Wakil Bupati Flores Timur, Ignasius Boli Uran, S.Fil., yang berdiri di podium upacara, suaranya menggetarkan semangat pagi:

“TMMD bukan hanya kerja pembangunan fisik, tapi kerja kebangsaan. Ini bukti bahwa TNI hadir bersama rakyat, bukan hanya menjaga, tetapi membangun. Atas nama Pemerintah Kabupaten Flores Timur, kami menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada TNI AD, khususnya Kodim 1624/Flotim, yang telah membawa terang ke wilayah kami melalui program TMMD ini.”

Kata-katanya menancap dalam. Di sekelilingku, prajurit dan warga sama-sama mengangguk. Sebab kami tahu, inilah kerja bersama. Kerja yang tidak hanya akan membangun jalan dan rumah, tetapi juga membangun keyakinan bahwa negara hadir, dan tak pernah jauh dari rakyatnya, sejauh apa pun kampung itu dari pusat kota.

Jalan yang Membelah Sunyi
Di bawah semburat jingga fajar, alat berat pertama akhirnya tiba di lokasi. Debu tipis mengepul saat caterpillar mulai merayap pelan, menyingkirkan akar-akar tua dan batu yang selama ini membungkam langkah. Aku berdiri di atas gundukan tanah yang baru saja diratakan, memandangi sekeliling dengan napas panjang. Beberapa warga mulai datang, mereka berdiri dalam diam, mata mereka tak lepas dari pemandangan yang baru jalan yang mulai dibuka.

.
pembukaan jalan sepanjang 4000 meter

Seorang pemuda menghampiri, mengenakan kaus usang dan celana kerja penuh bercak tanah. Namanya Dani, 22 tahun, warga Sarotari. Ia menunjuk ke arah lereng yang rencananya akan dibelah alat berat.

“Kalau jalan ini jadi, bisa tembus ke kebun saya, Pak,” katanya sambil tersenyum. “Biasanya saya harus pikul hasil panen jalan kaki dua jam, lewat tebing. Berat. Tapi nanti, bisa langsung pakai motor. Ekonomi keluarga saya pasti jauh lebih ringan.”

Aku menatap matanya yang jernih dan penuh harap. Tak ada yang berlebihan dalam kata-katanya, tapi aku tahu, bagi Dani dan banyak warga lain, empat ribu meter jalan bukan sekadar angka itu adalah jalan pulang, jalan hidup.

Matahari mulai naik perlahan, menggantikan fajar. Suara mesin bercampur dengan tawa warga yang mulai ikut membantu membersihkan semak dan menata batu. Semangat gotong royong itu tumbuh dengan sendirinya, tak perlu dikomando.

Aku turun dari gundukan tanah, melangkah perlahan menyusuri rute pembukaan. Bau tanah basah tercium kuat, menguar dari permukaan yang baru dibuka. Warnanya merah segar, seolah menandakan bahwa tanah ini siap menerima hidup baru dan harapan yang selama ini terkubur dalam sunyi.

Air dari Perut Bumi

.
Pembuatan sumur bor

Tak jauh dari lokasi pembukaan jalan, suara mesin sumur bor menggema pelan di antara rerimbunan pohon. Bersama Sertu Adi dan Praka Tina, aku berdiri di pinggir lubang yang terus menganga, menyaksikan roda bor yang terus berputar menembus lapisan demi lapisan tanah. Debu halus berterbangan, bercampur dengan aroma tanah basah yang segar.

Wajah mereka tampak letih, tapi ada harapan yang terpancar dalam diam. Terik matahari yang menyengat tak menyurutkan langkah mereka, bahkan beberapa dari mereka sesekali menyeka keringat yang mengalir deras.

Bor terus bekerja, menggerus tanah keras hingga kedalaman bertambah perlahan. Tiap putaran mesin seperti menyayat keheningan, membawa harapan yang semakin nyata meski air belum juga tampak. Anak-anak yang bermain di sekitar sesekali melirik ke arah lubang, tertarik dengan suara gemuruh yang belum biasa mereka dengar.

Mesin terus berjuang, tanah pun terus terkikis. Di bawah langit yang mulai memanas, ada rasa sabar dan doa yang mengalir tanpa suara dari warga yang menanti. Sebuah proses panjang yang tak terlihat dramatis, namun menyimpan janji besar di dalamnya janji akan air bersih yang kelak menghidupkan kampung ini.

Membangun Harapan Lewat Penyuluhan Non-Fisik

.
penyuluhan dalam kegiatan non fisik TMMD

Di sebuah aula sederhana yang dipenuhi oleh warga, suasana hangat terasa begitu kental. Kami menggelar berbagai penyuluhan non-fisik yang menyentuh aspek penting kehidupan mereka: kesehatan keluarga, pertanian yang berkelanjutan, wawasan kebangsaan, serta ketahanan pangan.

Pembahasan berjalan intens, membahas bagaimana cara meningkatkan nilai hasil panen, serta teknik pengolahan sederhana agar produk lokal memiliki daya jual lebih baik. Di sisi lain, perhatian khusus diberikan pada kesehatan keluarga, terutama upaya pencegahan stunting yang masih menjadi tantangan di wilayah ini. Kami menekankan pentingnya jadwal imunisasi lengkap, pola asuh yang baik, serta menjaga kebersihan lingkungan, terutama sumber air.

Suara semangat dan tanya jawab saling bergantian mengisi ruangan, menciptakan energi kolektif yang kuat. Setiap informasi yang dibagikan menjadi benih harapan bagi warga, membuka jalan menuju kehidupan yang lebih sehat, mandiri, dan sejahtera.

Langkah yang Diawasi dengan Hati

.
Tinjauan oleh Tim Wasev

Di tengah geliat pembangunan yang terus berjalan, kami kedatangan tamu penting: Tim Pengawas dan Evaluasi (Wasev) dari Mabesad yang dipimpin langsung oleh Asisten Operasi Kasad, Mayjen TNI Christian Kurnianto.

Sejak langkahnya menginjak tanah lokasi TMMD, terasa jelas bahwa kedatangan beliau bukan sekadar inspeksi rutin, melainkan sebuah bentuk penguatan moral bagi kami yang bertugas di lapangan. Dengan sikap rendah hati, beliau menyapa warga dan prajurit, menunjukkan perhatian yang tulus terhadap setiap proses yang berjalan.

Dalam kunjungannya, Mayjen Christian menegaskan bahwa pembangunan yang kami lakukan bukan hanya tentang membangun fisik semata, melainkan meletakkan pondasi masa depan yang kokoh. Ia menekankan pentingnya semangat dan hati dalam setiap langkah, agar hasil kerja kami benar-benar dirasakan dan dimiliki oleh masyarakat.

Selama menyusuri rute pembukaan jalan yang telah mencapai 70 persen, juga melihat progres sumur bor yang mulai mengalir serta renovasi rumah yang hampir rampung, beliau terus memberi perhatian pada detail dan berdialog dengan masyarakat, memahami harapan dan kebutuhan mereka secara langsung.

Kunjungan diakhiri dengan pengarahan yang penuh makna di bawah rindangnya pohon jati, di mana Mayjen Christian mengingatkan bahwa TMMD adalah kerja nurani, bukan sekadar kerja fisik. Pembangunan yang sejati adalah pembangunan yang membawa manfaat nyata bagi rakyat, bukan hanya sekadar angka dalam laporan.

Semangat dan kata-kata bijaknya meninggalkan jejak yang mendalam dalam diri kami, menjadi energi yang menguatkan tekad untuk menjalankan tugas dengan sepenuh hati. Saat beliau mengangkat tangan memberi hormat kepada masyarakat yang berkumpul, sorak-sorai “Hidup TNI!” menggema, menandai ikatan emosional yang erat antara rakyat dan tentaranya.

 

Memandang Masa Depan

.
pembangunan RTLH

Beberapa minggu berlalu. Jalan yang dulu hanya tumpukan tanah kini sudah rata, siap untuk dilewati kendaraan roda dua dan empat. Sumur bor mengalir tanpa henti, rumah Bapak Florianus berdiri kokoh di bawah sinar senja. Di saat itulah aku menyadari TMMD bukan sekadar program, melainkan kisah tentang bagaimana hadirnya sedikit nyala harapan mampu menerangi kawasan yang lama tenggelam dalam kesunyian.

Pada hari penutupan, kami menggelar upacara kecil di lapangan terbuka. Anak-anak membawa bendera kecil, sementara ibu-ibu membagikan kue tradisional. Aku berdiri di tengah upacara, menatap jajaran warga yang bersemangat. Seorang gadis kecil menghampiri, matanya berbinar, lalu berkata lirih:

“Pak, kalau Bapak pergi nanti, jalan ini boleh kami kirimkan doa ya? Supaya selalu terjaga.”

Aku menunduk, menepuk bahunya, “Tentu saja. Doa kalian yang akan menjaga jalan dan sumur ini agar selalu bermanfaat.”

Angin sore berhembus lembut, mengantar aroma kue dan cengkeraman harapan. Cahaya matahari keemasan menari di balik pepohonan, memperlihatkan bayangan panjang langkah-langkah kami. Di cakrawala, gunung-gunung hijau terlihat samar, seolah ikut menatap kami bangga, mungkin.

Menutup dengan Harapan yang Tak Pernah Padam

Saat matahari perlahan tenggelam di balik perbukitan Larantuka, jejak langkah kami tertinggal di tanah yang dulu sepi kini hidup dengan semangat baru. TMMD Ke-124 bukan sekadar cerita tentang pembangunan infrastruktur, tapi tentang membangun rasa percaya, menyulam ikatan, dan menghidupkan kembali harapan yang nyaris padam.

Kami datang bukan sebagai tamu, tapi sebagai bagian dari keluarga besar yang ingin melihat tanah ini tumbuh bersama mimpi-mimpinya. Dalam setiap jalan yang terbuka, setiap tetes air yang mengalir, dan setiap senyum yang tersungging, kami belajar bahwa membangun Indonesia tidak selalu dimulai dari kota-kota besar seringkali, ia justru bermula dari pelukan hangat kampung-kampung kecil yang menolak dilupakan.

Kini kami bersiap kembali ke markas, namun hati kami tertinggal di sini di antara jalan merah yang membelah sunyi, di dalam sumur yang mengalirkan hidup, dan di hati anak-anak yang bermimpi lebih tinggi. Semoga apa yang kami bangun bukan hanya bertahan, tetapi tumbuh. Karena sejatinya, TMMD bukan titik akhir ia adalah awal dari sebuah perjalanan panjang menuju masa depan yang lebih cerah.

Dan di setiap langkah rakyat yang menapaki jalan itu, semoga selalu ada doa yang mengiringi.

Larantuka, terima kasih telah menjadi bagian dari cerita pengabdian ini.