Jejak Peluh di Tanah Moris Jaya

Langit Kampung Moris Jaya, Kecamatan Banjar Agung, pagi itu seperti lukisan. Biru bersih tanpa awan, angin berhembus pelan seolah ikut merestui sebuah upacara penting. Lapangan desa yang biasanya hanya diisi suara anak-anak bermain bola, kini penuh oleh pasukan berseragam hijau, para undangan, dan warga yang sengaja datang untuk menyaksikan.
Aku datang sedikit terlambat. Langkahku agak terburu-buru, sementara dari kejauhan derap pasukan sudah berbaris rapi. Upacara penutupan TMMD ke-125 tahun 2025 telah dimulai. Spanduk besar di panggung utama membentang gagah, menuliskan tema: “Dengan Semangat TMMD Mewujudkan Pemerataan Pembangunan dan Ketahanan Nasional di Wilayah”.

Tiba-tiba suara lantang memecah suasana. Spontan lensa kameraku mengarah ke sumbernya. Di tengah lapangan berdiri tegap Dansatgas Kodim 0426/Tulang Bawang, Letkol Kav Delvy Marico, S.E., M.I.P. Dengan suara yang mantap, ia membacakan paparan hasil kegiatan.
Aku melirik ke barisan satgas di belakangnya. Mereka berdiri tegak, namun senyum kecil terlihat di wajah-wajah lelah itu. Ada kebanggaan yang tak bisa mereka sembunyikan. Di udara, sebuah drone melayang, merekam momen bersejarah itu.
Sentuhan Kemanusiaan: Sembako dan Rumah Layak Huni

Rangkaian upacara berlanjut dengan pembagian paket sembako. Seorang ibu tua berkerudung cokelat menerima bingkisan dengan tangan gemetar. Matanya berkaca-kaca ketika mengucapkan terima kasih.
“Alhamdulillah, nak… ini sangat berarti untuk kami,” katanya lirih.
Tak berhenti di situ, simbol kunci rumah layak huni (RTLH) juga diserahkan. Kasrem 043/Gatam, Kolonel Inf Sumarlin Marzuki, S.E., M.Han., bersama Bupati Tulang Bawang, Drs. Qudratul Ikhwan, M.M., turun langsung memberikan kunci itu kepada warga. Tepuk tangan pun menggema.
Seorang prajurit di sampingku berbisik, “Itu rumah yang kami kerjakan hampir siang-malam. Lihat wajahnya, Mas. Semua lelah rasanya lunas terbayar.”
Aku hanya mengangguk, merasakan ada getaran hangat di dadaku.
Jalan Baru di Sumber Makmur

Setelah upacara, rombongan bergerak menuju Desa Sumber Makmur. Jalan sepanjang 1.600 meter dan lebar 4 meter terbentang rapi. Koral menutup permukaan, sementara di sisi kanan-kiri terpasang drainase. Padahal, beberapa minggu lalu, jalan ini masih berupa tanah berlubang yang sulit dilalui.
Di tengah rombongan, seorang pria paruh baya menghampiri. Ia memperkenalkan diri sebagai Pak Wono, seorang Rukun Kampung. Tangannya langsung menyalami pejabat dan prajurit yang datang.
“Dulu, Pak… jalan ini kalau musim hujan becek sekali. Mobil sawit sering terperosok. Sekarang… kami bisa lewat lancar. Hasil kebun jadi gampang keluar,” ceritanya dengan mata berbinar.
Letkol Delvy Marico menepuk bahunya sambil tersenyum, “Kami hanya membantu, Pak. Yang menjaga dan merawat nanti warga semua.”
Aku teringat kunjunganku beberapa minggu sebelumnya. Jalan masih dalam pengerjaan, prajurit dan warga bergotong royong mengangkut batu, meratakan tanah. Keringat bercucuran, namun semangat tak pernah padam. Kini, aku berdiri di atas hasil nyata dari kerja keras itu.
Gorong-Gorong Penjaga Jalan

Di jalur yang sama, tampak lima titik gorong-gorong baru telah terpasang kokoh. Saluran air kini mengalir lancar, mencegah genangan yang selama ini menjadi musuh utama jalan desa.
Seorang prajurit menunjuk salah satu gorong-gorong yang baru selesai dipasang.
“Kalau tidak ada gorong-gorong ini, percuma jalan dibaguskan. Air hujan bisa merendam jalan, lalu cepat rusak. Jadi, gorong-gorong ini ibarat nyawa bagi jalan,” jelasnya sambil mengusap keringat di pelipis.
Pak Yono menimpali dengan wajah lega:
“Betul, Pak. Dulu kalau hujan deras, air tumpah ke jalan, lubang makin dalam, kendaraan bisa mogok di tengah. Sekarang airnya mengalir mulus ke parit. Kami yakin jalan ini bisa bertahan lama.”
Aku membayangkan bagaimana gorong-gorong itu dipasang. Galian tanah, pemasangan pipa, hingga penimbunan kembali dengan batu dan tanah. Bukan pekerjaan mudah, tapi hasilnya kini memberi jaminan umur panjang pada jalan desa.
Senyum di Rumah Baru

Tujuan selanjutnya adalah rumah Pak Adul Malik. RTLH ini kini berdiri lebih kokoh. Cat dinding berwarna cerah, atap rapi, dan halaman bersih. Keluarga Pak Adul menyambut dengan senyum tak terkira.
“Terima kasih banyak, Pak. Saya tidak pernah membayangkan rumah saya bisa jadi seperti ini. Anak-anak sekarang tidur nyenyak, tidak takut atap bocor lagi,” ucap Pak Adul haru.
Momen foto bersama pun diabadikan. Aku melihat bagaimana wajah Pak Adul dan istrinya berseri-seri, seolah beban hidup sedikit terangkat. Di sampingku, seorang prajurit muda berkata lirih,
“Mas, waktu kami pasang atap rumah ini, hujan deras turun. Tapi lihat sekarang, rasanya semua terbayar.”
Aku hanya tersenyum sambil mengabadikan momen itu lewat kamera.
Bupati Tulang Bawang, Drs. Qudratul Ikhwan, M.M., yang ikut hadir menambahkan dengan suara penuh ketulusan:
“Rumah ini bukan hanya bangunan fisik, tapi juga simbol kepedulian negara kepada rakyatnya. Saya berharap keluarga Pak Adul lebih nyaman, lebih sehat, dan lebih bersemangat menjalani hidup. Ke depan, kita ingin semakin banyak rumah warga yang bisa disentuh program seperti ini.”
Kata-kata itu disambut anggukan penuh syukur dari keluarga Pak Adul. Atmosfer terasa hangat, seolah rumah sederhana itu kini menyimpan cahaya baru bagi penghuninya.
Air Kehidupan dari Toren Oranye

Tak jauh dari rumah Pak Adul, sebuah toren berwarna oranye menjulang tinggi. Kasrem 043/Gatam mencoba membuka keran. Seketika air jernih mengalir deras. Suara gemericiknya membuat warga yang menonton bertepuk tangan.
“Airnya bening sekali. Ini yang kami tunggu-tunggu, Nak. Dulu harus gali sumur jauh ke belakang, sekarang ada lima titik sumur bor. Kami lebih mudah dapat air,” ujar seorang ibu sambil menggendong balita.
Aku menatap toren itu dengan rasa kagum. Sebuah wadah sederhana, namun menyimpan harapan besar air untuk kehidupan.
Mushola yang Lebih Layak
Tak hanya fisik kebutuhan rumah tangga, TMMD juga menyentuh aspek rohani. Sebuah mushola kecil di desa direhab, dindingnya dicat ulang, atapnya diperbaiki, karpet baru digelar.
Seorang bapak tua dengan peci hitam tersenyum lebar.
“Kami biasa sholat berjamaah di sini. Dulu bocor kalau hujan, kadang lantai basah semua. Sekarang, mushola ini lebih layak. Terima kasih, Nak. InsyaAllah, pahala untuk semua yang membantu,” katanya.
Aku terdiam, merasakan bagaimana sebuah bangunan kecil bisa membawa kebahagiaan besar bagi warga.
Menanam Harapan Lewat Bibit

Di sebuah lahan yang dipenuhi warga, suasana riuh penuh semangat. Bukan sekadar upacara seremonial, melainkan momen berbagi masa depan. Prajurit dan aparat pemerintah menyalurkan bantuan bibit padi dan bibit ikan kepada masyarakat.
Seorang ibu muda dengan wajah penuh harap menerima paket berisi bibit padi.
“Alhamdulillah, ini bisa untuk sawah kecil kami. Semoga panennya nanti lebih baik,” ujarnya sambil tersenyum.
Tak jauh darinya, beberapa anak-anak berkerumun di sekitar kolam terpal yang berisi bibit ikan lele. Seorang prajurit muda berjongkok, tangannya meraih segenggam bibit ikan lalu menunjukkannya pada mereka.
“Lihat, nanti kalau besar bisa kalian makan sama-sama, ya. Jangan lupa dirawat,” katanya sambil tertawa kecil.
Seorang bocah menjawab polos,
“Iya, Pak Tentara. Nanti lelenya besar-besar, buat makan ramai-ramai.”
Aku menyaksikan pemandangan itu dengan hati hangat. Di balik bibit padi yang kecil dan ikan-ikan mungil itu, tersimpan harapan besar: perut yang kenyang, ekonomi yang lebih baik, dan masa depan yang lebih cerah.
Jejak Peluh yang Mengukir Sejarah
Hari mulai siang. Rombongan bergerak meninjau satu per satu hasil pembangunan. Wajah-wajah lelah prajurit terlihat, namun di balik itu ada cahaya kebanggaan.
Aku berdiri sejenak di jalan yang baru selesai dikerjakan. Angin berhembus, debu tak lagi beterbangan seperti dulu. Terbayang bagaimana peluh menetes, bagaimana tangan-tangan terampil bekerja tanpa kenal lelah.
TMMD ke-125 bukan hanya catatan kegiatan. Ia adalah kisah perjuangan. Kisah tentang prajurit yang rela tidur di tenda, bekerja bersama warga, dan mengukir perubahan nyata di desa-desa.
Di Moris Jaya, aku menyaksikan bahwa pembangunan bukan sekadar infrastruktur, melainkan juga membangun harapan, kebersamaan, dan ketahanan sebuah bangsa.
“Keringat kami tak sia-sia, Mas. Selama rakyat tersenyum, itu sudah cukup bagi kami,” ujar seorang prajurit saat kami berjalan pulang.
Tak jauh dari situ, Bupati Tulang Bawang, Drs. Qudratul Ikhwan, M.M., ikut menambahkan dengan suara mantap namun penuh kehangatan:
“Atas nama masyarakat Tulang Bawang, saya menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada jajaran Kodim 0426. Kehadiran TMMD ini benar-benar membawa perubahan nyata bagi warga. Semoga sinergi antara pemerintah daerah, TNI, dan masyarakat terus terjalin, demi kesejahteraan bersama.”
Aku menatapnya, lalu menoleh pada wajah-wajah warga yang tersenyum bahagia. Aku tahu, cerita ini akan lama melekat
bukan hanya di desa ini, tapi juga di hatiku.
