Membangkitkan Cahaya Pendidikan di Tapal Batas Nusantara
Oleh : Letkol Arm Didit Prasetyo Purwanto, S.E. (Komandan Kodim 1618/TTU)

Di ujung sebuah desa terpencil, di antara perbukitan yang seolah memeluknya dengan sunyi, berdiri sebuah sekolah tua. SDN Lanaus, namanya. Tapi, menyebutnya sebagai sekolah terasa begitu menyakitkan. Dinding-dindingnya dari kayu lapuk dan anyaman bambu yang mulai terurai, menyisakan lubang-lubang menganga seperti luka yang tak pernah sembuh. Atap sengnya sudah berkarat, dan ketika hujan turun, air menetes di sana-sini, membuat anak-anak harus berpindah tempat agar buku mereka tidak basah.
Dari balik celah-celah dinding yang berlubang, suara anak-anak menggema, penuh semangat. Mereka duduk di atas lantai kayu yang sudah reyot, menuliskan mimpi-mimpi mereka di atas buku yang hampir habis halamannya. Tidak ada meja, tidak ada kursi yang layak. Mereka belajar dengan segala keterbatasan, tapi mata mereka tetap berbinar.
Keceriaan di Tengah Keterbatasan
Ketika bel tanda pulang berbunyi, suasana berubah menjadi riuh. "Selamat siang, Bapak Guru!" suara mereka serempak, begitu nyaring, begitu bersemangat. Sejurus kemudian, kaki-kaki kecil tanpa alas itu berlarian keluar kelas. Debu berhamburan dari tanah kering yang mereka injak, namun senyum tetap mengembang di wajah mereka.
Saat itu, langkahku terhenti ketika melihat seorang anak perempuan kecil melintas dengan langkah pelan, memeluk buku lusuhnya erat-erat. Aku memanggilnya dan berjongkok agar sejajar dengannya. "Siapa namamu?" tanyaku lembut.
"Saya Sofia , Pak," jawabnya dengan suara lirih namun penuh semangat.
Aku tersenyum. "Sofia , apa cita-citamu nanti kalau sudah besar?"
Mata kecilnya berbinar, tak ragu sedikit pun ia menjawab, "Saya ingin jadi guru, biar sekolah ini punya banyak buku dan bangku."
Kata-katanya seperti sembilu, menusuk jauh ke dalam hatiku. Mimpi yang sederhana, namun begitu besar dan berarti di tempat seperti ini. Di tengah segala keterbatasan, ia masih berani bermimpi, dan aku berjanji dalam hati, akan melakukan yang terbaik agar impiannya tak hanya sekadar angan-angan.
TMMD Hadir untuk Membangun Harapan

Barangkali, ini adalah takdir yang membawa saya dan rekan-rekan dari Kodim 1618/TTU ke desa ini, melalui program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-123 Tahun 2025. Kami datang bukan hanya untuk menyaksikan, tapi untuk mengubahnya. Kami berkomitmen menjadikan SDN Lanaus sebagai prioritas utama dalam kegiatan ini, karena kami tahu, pendidikan adalah kunci bagi anak-anak ini untuk membuka gerbang masa depan mereka.
Saya memandang anak-anak yang berlarian di halaman sekolah, tertawa lepas tanpa beban, meski di sekitar mereka hanya ada bangunan tua yang nyaris roboh. Mungkin, di antara anak-anak ini ada yang kelak akan menjadi guru, insinyur, dokter, atau bahkan pemimpin negeri ini. Mereka, yang kini duduk di atas lantai reyot dan menulis dengan pensil hampir habis, mungkin suatu hari nanti akan menjadi ujung tombak menuju Indonesia Emas. Kami ingin memastikan bahwa impian mereka tidak pupus hanya karena keterbatasan.
Pembangunan SDN Lanaus, Mengubah Sekolah Reyot Menjadi Bangunan Kokoh
Gong tanda dibukanya kegiatan TMMD ke-123 telah menggaung, menggema di seluruh desa, menandakan bahwa perjuangan kami telah dimulai. Tanpa menunda waktu, kami mulai bekerja, meretas harapan di antara kepulan debu dan derak batu yang mulai disusun. Tak disangka, warga desa datang berbondong-bondong. Tanpa diminta, semangat yang tak terbendung para pria mengangkat batu dengan tenaga penuh, sementara ibu-ibu juga turut membantu, mengangkut pasir menggunakan ember dengan penuh semangat. Tangan-tangan mereka saling bersambutan, membentuk estafet yang rapi untuk melangsir material pembangunan.

Kebersamaan ini begitu mengharukan. Peluh bercucuran di wajah mereka, namun tak satu pun dari mereka mengeluh. Ada senyum kecil yang terselip di setiap tumpukan pasir yang berpindah tangan, di setiap batu yang terangkat, di setiap langkah kaki yang menapak di tanah berdebu. Kami tahu, jalan yang ditempuh tidak akan mudah. Hambatan dan rintangan menanti di depan, tetapi semua itu tak akan menjadi penghalang. Karena di ujung perjuangan ini, ada satu tujuan yang lebih besar: menghadirkan senyuman di wajah anak-anak Desa Lanaus.
Di tengah istirahat, seorang pria paruh baya duduk di samping saya. "Kami pikir sekolah ini akan tetap seperti ini selamanya. Tapi sekarang, kami melihat harapan," katanya sambil menatap bangunan yang mulai berdiri kokoh.
Saya menatap tangan-tangan mereka yang penuh kapalan, wajah mereka yang lelah namun berbinar. Mereka tak dibayar untuk ini. Mereka bekerja karena cinta. Cinta kepada anak-anak mereka, cinta kepada masa depan mereka.
Program Renovasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), Memberikan Kehidupan yang Lebih Layak

Tak hanya sekolah, kami juga merenovasi rumah salah satu warga yang selama ini nyaris roboh. Rumah kecil itu milik Bapak Martinus Nofu, seorang pria paruh baya yang telah bertahun-tahun tinggal di rumah berdinding bambu reyot dan beratapkan seng bocor. Setiap hujan turun, ia harus berpindah tempat untuk menghindari air yang menetes dari langit-langit. Kini, rumah itu mulai berubah. Dinding yang dulu rapuh kini kokoh berdiri, atap yang dulu bocor kini telah diganti.
Ketika kami menyerahkan kunci rumah yang baru direnovasi, Bapak Martinus menggenggamnya erat. Matanya berkaca-kaca, dan suaranya bergetar saat berbicara. "Terima kasih," katanya dengan penuh haru. "Saya tak pernah membayangkan bisa tinggal di rumah seperti ini. Dulu saya berpikir, mungkin saya akan menghabiskan sisa hidup saya di rumah yang hampir roboh itu. Tapi kini, saya punya rumah yang layak, tempat saya bisa berlindung dengan tenang."
Di sekelilingnya, para tetangga ikut menyaksikan momen itu. Beberapa di antara mereka ikut menghapus air mata yang mengalir di pipi. Bagi mereka, ini bukan sekadar rumah yang dibangun, tetapi sebuah simbol harapan bahwa kehidupan mereka pun bisa berubah menjadi lebih baik. Dan bagi kami, melihat senyum di wajah Bapak Martinus adalah bukti bahwa perjuangan kami di sini benar-benar berarti.
Pembangunan Sumur Bor untuk Air Bersih, Menghapus Dahaga Bertahun-tahun

Di desa ini, air bersih adalah kemewahan yang jarang dinikmati. Bertahun-tahun, warga harus berjalan berkilo-kilometer melintasi jalan berbatu dan hutan lebat hanya untuk mendapatkan air dari sumber yang jauh. Air yang mereka dapatkan pun sering kali tidak layak konsumsi, berwarna keruh dan bercampur lumpur. Namun, mereka tidak punya pilihan lain.
Melalui program TMMD ini, kami membangun sumur bor yang akan mengakhiri penderitaan itu. Setiap tetes keringat yang jatuh saat menggali adalah simbol harapan bagi warga desa. Saat akhirnya air pertama menyembur dari sumur yang baru selesai dibangun, terdengar pekikan bahagia dari warga yang berkumpul di sekelilingnya. Anak-anak berlarian dengan wajah penuh keceriaan, menyentuhkan tangan mungil mereka ke air yang jernih seakan tak percaya bahwa kini mereka memiliki sumber air bersih sendiri.
Penyuluhan dan Edukasi untuk Masyarakat, Cahaya Pengetahuan di Perbatasan

Selain membangun fisik, kami juga membangun jiwa. Berbagai penyuluhan kami lakukan, mulai dari kesehatan, pola makan sehat, hingga wawasan kebangsaan. Kami ingin masyarakat tidak hanya lebih sejahtera secara ekonomi, tapi juga lebih sadar akan pentingnya kesehatan dan pendidikan.
Dalam penyuluhan kesehatan, kami menghadirkan tenaga medis yang memberikan edukasi tentang pentingnya menjaga kebersihan, cara menghindari penyakit menular, serta bagaimana pola makan sehat dapat meningkatkan daya tahan tubuh. Banyak ibu-ibu yang antusias bertanya tentang gizi anak dan cara mengolah makanan dengan bahan sederhana namun tetap bergizi. Seorang ibu bahkan berkata, "Kami biasanya hanya memasak apa yang ada, tak tahu apakah itu sehat atau tidak. Sekarang kami paham bahwa ada cara sederhana untuk menjaga kesehatan keluarga kami."
Penyuluhan wawasan kebangsaan juga menjadi momen yang berharga. Kami berbicara tentang nilai-nilai kebangsaan, pentingnya persatuan, dan bagaimana generasi muda dapat berkontribusi bagi negara. Anak-anak sekolah mendengarkan dengan mata berbinar, seakan menemukan alasan baru untuk bermimpi lebih besar. "Saya ingin jadi tentara seperti bapak," ucap seorang anak laki-laki dengan penuh semangat.
Tidak hanya itu, kami juga mengadakan penyuluhan pertanian dan kewirausahaan bagi warga yang ingin meningkatkan taraf hidup mereka. Dengan menghadirkan praktisi dan ahli, mereka belajar cara bercocok tanam yang lebih efektif dan bagaimana mengelola hasil panen agar memiliki nilai jual lebih tinggi. "Dulu kami hanya menanam untuk makan sendiri, sekarang kami tahu cara menjual hasil kebun agar bisa menambah penghasilan," kata seorang petani dengan senyum penuh harapan.
Penyuluhan-penyuluhan ini bukan sekadar sesi belajar, tapi juga jembatan bagi masyarakat untuk menuju kehidupan yang lebih baik. Setiap kata yang disampaikan, setiap ilmu yang diberikan, adalah benih yang kami tanam dengan harapan akan tumbuh menjadi masa depan yang lebih cerah bagi mereka.
Sebuah Penghargaan untuk Pengorbanan

Ketika Mayjen TNI Gabriel Lema, S.Sos., Tim Wasev TMMD, datang meninjau, beliau disambut dengan tarian tradisional dari siswa-siswi SDN Lanaus. Langkah-langkah kecil mereka bergerak lincah diiringi alunan musik tradisional, menjadi ungkapan rasa terima kasih yang tulus. Mata Mayjen TNI Gabriel Lema berbinar, melihat semangat yang begitu besar dari anak-anak dan warga desa.
Beliau tersenyum puas. "Ini bukan hanya pembangunan fisik, tapi juga pembangunan harapan," katanya dengan suara penuh penghargaan. Kata-kata itu membakar semangat kami. Kami tahu, kerja keras kami tidak sia-sia. Setiap tetes keringat, setiap batu yang disusun, dan setiap jalinan kebersamaan yang terjalin akan terus menjadi bagian dari perjalanan panjang menuju masa depan yang lebih baik bagi Desa Lanaus.
Upacara Penutupan yang Berkesan
Kegiatan TMMD ke-123 TA 2025 mencapai puncaknya dalam sebuah upacara penutupan yang berkesan. Kehadiran Kasdam IX/Udayana, Brigjen TNI Taufiq Hanafi, memberikan makna tersendiri bagi masyarakat Desa Lanaus. Dalam upacara tersebut, Brigjen Taufiq Hanafi secara resmi meresmikan empat ruang kelas baru di SDN Lanaus, menandai awal baru bagi dunia pendidikan di desa ini.

Suasana haru semakin terasa saat beberapa warga yang membutuhkan menerima bantuan paket sembako dari Satgas TMMD. Warga yang hadir tampak tersenyum bahagia, merasa dihargai dan diperhatikan oleh negara.
"Penutupan ini bukanlah akhir, tetapi awal dari perubahan nyata bagi masyarakat Desa Lanaus. Kami berharap, infrastruktur yang telah dibangun dapat dimanfaatkan sebaik mungkin dan menjadi motivasi bagi masyarakat untuk terus maju," ujar Brigjen TNI Taufiq Hanafi dalam sambutannya.
Dengan penuh kebanggaan, masyarakat Desa Lanaus menyaksikan hasil nyata dari kerja keras selama satu bulan penuh. Sekolah baru yang kokoh, jalanan yang lebih layak, rumah yang lebih nyaman, dan akses air bersih yang memadai kini menjadi bukti bahwa harapan itu masih ada. TMMD ke-123 bukan hanya tentang pembangunan fisik, tetapi juga tentang menghidupkan kembali semangat dan asa di perbatasan negeri.
Masa Depan Cerah untuk SDN Lanaus dan Desa Lanaus

Dengan mengusung tema "Dengan Semangat TMMD Mewujudkan Pemerataan Pembangunan dan Ketahanan Nasional di Wilayah", kami berharap Desa Lanaus akan semakin maju. SDN Lanaus bukan lagi sekolah reyot dengan dinding berlubang, tetapi menjadi tempat di mana anak-anak dapat bermimpi lebih tinggi.
Dan ketika pembangunan selesai, saat anak-anak kembali ke sekolah mereka yang baru, mereka berlari dengan mata berbinar, menyentuh dinding yang kokoh, dan duduk di bangku yang tak lagi goyah. Mereka tak perlu lagi menghindari tetesan air hujan di dalam kelas. Mereka tak perlu lagi bermimpi tentang sekolah yang lebih baik—karena kini, sekolah itu sudah ada di hadapan mereka.
Kami pulang dengan hati yang penuh. Kami tahu, kami telah meninggalkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar bangunan. Kami telah meninggalkan harapan.
Dan harapan itulah yang akan terus tumbuh di Desa Lanaus.
