Skip to main content
x
TNI

Membangun Harapan di Perbatasan: TMMD ke-123, Cahaya di Ujung Timur Negeri

Oleh : Letkol Arm Didit Prasetyo Purwanto, S.E ( Komandan Kodim 1618/TTU)
siswa siswi SDN Lanaus
Semangat dan keceriaan siswa siswi SDN Lanaus


Di ufuk timur Indonesia, ketika matahari mulai mengintip dari balik perbukitan hijau, sinarnya menyapu hamparan tanah berbatu dan ladang-ladang yang menguning. Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), sebuah daerah yang berbatasan langsung dengan Timor Leste, menyuguhkan keindahan yang tak terbantahkan. Namun di balik lanskap yang memesona ini, ada luka yang tak kasat mata. Luka yang terukir dalam dinding sekolah reyot, jalanan setapak penuh lumpur, dan mimpi-mimpi anak-anak yang hampir pudar karena keterbatasan fasilitas pendidikan.

Di Desa Lanaus, sekolah bukanlah tempat belajar yang nyaman. Beberapa bangunan nyaris rubuh, dengan dinding bambu yang bolong di sana-sini, membiarkan angin dingin menelusup masuk ke ruang kelas. Atap seng yang karatan tak sanggup menahan derasnya hujan, membuat anak-anak harus berdesakan di pojok kelas, melindungi buku-buku lusuh mereka dari tetesan air yang jatuh tanpa ampun. Meja dan kursi yang reyot, yang entah sejak kapan terakhir kali diperbarui, tak mampu menampung semua siswa. Tak jarang, anak-anak harus duduk di lantai tanah yang keras, mengais ilmu dengan penuh kesabaran.

Dan perjalanan ke sekolah? Ah, itu kisah lain yang lebih memilukan. Anak-anak harus berjalan kaki berkilo-kilometer, menembus semak belukar dan jalan berbatu yang seakan menguji keteguhan hati mereka. Jika hujan turun, jalanan berubah menjadi kubangan lumpur yang licin, memaksa mereka untuk memilih: pulang basah kuyup dan kotor atau tidak berangkat sekolah sama sekali. Namun mereka tetap melangkah, dengan kaki mungil yang terkadang tanpa alas, dan harapan besar di dada.

Menghapus Nestapa, Menyalakan Asa

Di tengah keterpurukan ini, secercah cahaya mulai menerangi Desa Lanaus. Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-123 datang membawa angin perubahan. Mengusung tema "Dengan Semangat TMMD Mewujudkan Pemerataan Pembangunan dan Ketahanan Nasional di Wilayah," Kodim 1618/TTU mengemban tugas mulia: membangun bukan hanya infrastruktur, tetapi juga harapan.

Pembukaan TMMD Ke 123
Penandatanganan naskah TMMD Ke 123 Asisten I Yoseph Kuabib bersama Dansatgas Kodim 1618/TTU

 

Bupati TTU, Juandi David, melalui Asisten I, Yoseph Kuabib, menyampaikan apresiasi yang mendalam atas pelaksanaan TMMD ini. "Kami memahami betapa pentingnya pembangunan yang merata, terutama di daerah perbatasan seperti ini. TMMD hadir sebagai solusi nyata bagi desa-desa yang selama ini sulit dijangkau oleh program pembangunan. Kami berharap, dengan adanya TMMD, masyarakat tidak hanya mendapatkan infrastruktur yang lebih baik, tetapi juga tumbuh dalam ketahanan sosial dan ekonomi yang lebih kuat," ungkapnya.

Derap Langkah Satgas TMMD, Membangun di Bawah Matahari Perbatasan

Dasatgas Kodim 1618/TTU
Dastgas Kodim 1618/TTU Letkol Armed Didit Prasetyo Purwanto tinjau kegiatan TMMD 

 

Panasnya matahari perbatasan tak menggentarkan langkah para prajurit TNI yang tergabung dalam Satgas TMMD. Dipimpin oleh Dansatgas TMMD, Letkol Armed Didit Prasetyo Purwanto, mereka bekerja bahu-membahu dengan masyarakat. Ada yang mencangkul, ada yang mengaduk semen, ada yang menata batu bata dengan penuh teliti. Setiap pukulan palu, setiap tarikan sekop, adalah janji bahwa besok akan lebih baik.

"Kami bukan sekadar membangun sekolah atau jalan. Kami ingin membangun harapan. Agar anak-anak di sini bisa belajar dengan nyaman, agar mereka percaya bahwa negeri ini tak pernah melupakan mereka," ujar Letkol Didit, matanya penuh keyakinan.

Para prajurit ini bekerja dengan penuh dedikasi, menahan lelah demi satu tujuan: memberi yang terbaik bagi negeri. Bahkan ketika hujan turun dan tanah berubah menjadi becek, mereka tetap bekerja tanpa keluhan. Sebab mereka tahu, ini bukan hanya tentang membangun desa, tetapi juga membangun masa depan.

Gotong Royong, Harmoni di Tengah Keterbatasan

Tak hanya TNI, masyarakat Desa Lanaus pun turut turun tangan. Adelberta Siki, seorang ibu yang anaknya bersekolah di SD Desa Lanaus, tak kuasa menahan haru. Matanya berkaca-kaca saat menyaksikan para prajurit bekerja membangun sekolah impian anak-anaknya. "Hai Mine'op, lian'in Sina skol le lof onle ija ha, ma muni'i Skol ija Nafena Ben. Haim toet makasih Neo TNI" (Kami pikir sekolah anak-anak kami akan terus begini. Tapi sekarang, akan dibangun, terima kasih TNI!).

Gotong royong
Perjuangan warga bersama satgas TMMD untuk pembangunan

 

Dengan penuh semangat, ibu-ibu membantu melansir material dengan ember. Mereka mungkin tak punya banyak uang untuk menyumbang, tapi mereka punya tenaga dan ketulusan. Sementara itu, bapak-bapak bekerja mengaduk semen dan menata batu bata, memastikan bangunan sekolah berdiri kokoh.

Kepala Desa Lanaus Bapak Anselmus Hanoe ikut berujar dengan penuh semangat, "Pembangunan sekolah ini adalah titik awal bagi masa depan anak-anak kami. Dengan fasilitas yang lebih layak, mereka bisa belajar dengan nyaman dan memiliki motivasi lebih tinggi untuk meraih cita-cita."

RTLH dan Sumur Bor Menghidupkan Harapan, Menghapus Kekhawatiran

Tak hanya sekolah, TMMD ke-123 juga membangun Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) bagi warga yang selama ini hidup dalam keterbatasan. Bapak Martinus Nofu, seorang lelaki paruh baya dengan tangan yang kasar oleh kerja keras, berdiri terpaku di depan rumah barunya. Matanya berkaca-kaca, bibirnya bergetar menahan haru. "Ini bukan sekadar rumah... ini adalah keajaiban dalam hidup kami," suaranya lirih, nyaris tak terdengar. "Dulu, setiap malam kami tidur dalam kecemasan, takut atap bocor, takut dinding roboh. Tapi sekarang, untuk pertama kalinya, keluarga kami bisa tidur dengan damai, tanpa rasa khawatir lagi."

Dasatgas Kodim 1618/TTU
Tinjauan Dansatgas Kodim 1618/TTU ke lokasi RTLH

 

Dansatgas TMMD, Letkol Armed Didit Prasetyo Purwanto, menegaskan bahwa pembangunan RTLH ini bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan bagian dari komitmen TNI untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. "Kami ingin memastikan bahwa tidak ada lagi warga yang harus tidur dengan kecemasan. TMMD hadir untuk membuktikan bahwa negara tidak tinggal diam melihat rakyatnya berjuang sendirian. Kami ada untuk mereka, untuk membangun, untuk memberikan harapan," tegasnya dengan suara penuh ketegasan dan kepedulian.

Selain itu, pembangunan sumur bor menjadi jawaban atas penderitaan panjang warga Desa Lanaus yang selama ini berjuang mendapatkan air bersih. "Dulu, kami harus berjalan berkilo-kilometer, melewati jalan berbatu dan bukit terjal, hanya demi menimba seember air. Setiap tetes air terasa begitu berharga, setiap langkah menuju sumber air terasa seperti pertarungan melawan alam. Tak jarang, kami harus memilih antara kelelahan yang mendera atau kehausan yang menyiksa. Tapi kini, semua itu telah menjadi kenangan. Air bersih kini mengalir hanya beberapa langkah dari rumah kami. Tidak ada lagi perjalanan melelahkan, tidak ada lagi anak-anak yang harus mengorbankan waktu belajar hanya untuk mencari air. Ini bukan sekadar sumur, ini adalah kehidupan baru, anugerah yang menghapus air mata kami," ujar seorang warga dengan mata berkaca-kaca, suaranya bergetar menahan haru.

Dansatgas TMMD, Letkol Armed Didit Prasetyo Purwanto, menegaskan bahwa pembangunan sumur bor ini merupakan bentuk nyata kepedulian TNI terhadap kesejahteraan masyarakat. "Kami memahami betapa krusialnya akses air bersih bagi kehidupan sehari-hari. Dengan adanya sumur bor ini, kami berharap warga tidak lagi kesulitan mendapatkan air bersih, sehingga kesehatan dan taraf hidup mereka bisa meningkat secara signifikan," tegasnya dengan penuh optimisme.

Tarian Syukur dan Apresiasi Tim Wasev

Tinjuan Lokasi TMMD
Penyambutan Mayjen TNI Gabriel Lema, S.Sos., Ketua Tim Wasev

 

Di akhir kunjungan, siswa-siswi SD yang kini memiliki harapan sekolah baru menampilkan tarian tradisional sebagai ungkapan terima kasih mereka kepada TNI. Dengan lincah, mereka menari, mengibaskan kain dengan penuh kebanggaan. Mayjen TNI Gabriel Lema, S.Sos., Ketua Tim Wasev, menyaksikan dengan mata berbinar.

"TMMD bukan hanya tentang pembangunan fisik. Ini tentang membangun kebersamaan, membangun Indonesia dari pinggiran. Dan hari ini, saya melihat bagaimana kebersamaan itu tumbuh di Desa Lanaus," katanya dengan suara bergetar.

Seorang siswa kecil, dengan mata berbinar penuh harapan, berbisik lirih, "Terima kasih, Pak TNI. Sekarang sekolah kami lebih bagus. Kami jadi semakin semangat belajar!"

Di tanah perbatasan, harapan kembali menyala. Dan di hati setiap warga Desa Lanaus, TMMD ke-123 akan selalu dikenang sebagai babak baru dalam perjalanan panjang mereka menuju masa depan yang lebih cerah.
 

Jejak Pengabdian, Asa yang Kembali Hidup

TMMD ke-123 TA 2025 di Desa Lanaus mencapai puncaknya dalam upacara penutupan yang penuh haru. Kasdam IX/Udayana, Brigjen TNI Taufiq Hanafi, meresmikan empat ruang kelas baru di SDN Lanaus, membuka lembaran baru bagi pendidikan di daerah perbatasan.
 

Persamian
Persamian SDN Lanaus oleh Brigjen Taufiq Hanafi

 

Selain itu, Satgas TMMD menyalurkan bantuan sembako kepada warga yang membutuhkan, menghadirkan kebahagiaan di tengah perjuangan hidup mereka.

"Ini bukan akhir, melainkan awal perubahan besar," ujar Brigjen Taufiq Hanafi.

Jalan yang lebih layak, rumah yang lebih nyaman, dan akses air bersih yang lebih baik kini menjadi bukti nyata. TMMD ke-123 bukan hanya membangun fisik, tetapi juga menyalakan kembali harapan di hati masyarakat.
 

Masa Depan Cerah untuk SDN Lanaus dan Desa Lanaus

Dengan mengusung tema “Dengan Semangat TMMD Mewujudkan Pemerataan Pembangunan dan Ketahanan Nasional di Wilayah,” kami percaya bahwa Desa Lanaus kini melangkah menuju masa depan yang lebih baik. SDN Lanaus bukan lagi sekolah reyot dengan dinding berlubang, melainkan tempat di mana impian anak-anak mulai mengakar dan tumbuh tinggi.

Ketika pembangunan rampung, anak-anak kembali ke sekolah mereka yang baru. Dengan mata berbinar, mereka berlari, menyentuh dinding kokoh yang kini melindungi mereka. Tak ada lagi bangku rapuh, tak ada lagi atap bocor yang memaksa mereka menghindari tetesan hujan. Kini, mereka tak hanya bermimpi tentang sekolah yang layak—mereka telah memilikinya.

Namun, di balik kebahagian terselip senyum yang dipaksakan, kesedihan tak bisa dielakkan. Jiwa-jiwa kecil yang selama ini akrab dengan tawa dan kebersamaan, kini harus menghadapi perpisahan yang begitu berat. Seorang bocah perempuan, dengan mata berbinar yang kini basah oleh air mata, menggenggam erat tangan seorang prajurit. " terimakasih ya Pak..." suaranya lirih, penuh harap.

Kesedihan
Keharuan saat satgas TMMD berpamitan

 

Jiwa tegas tentara pun goyah. Betapa pun mereka telah ditempa untuk kuat, ketulusan anak-anak ini meruntuhkan semua pertahanan. Seorang anggota Satgas mengusap kepalanya, mencoba tersenyum meski hatinya ikut tercekat. Tak dapat terbendung, air mata pun jatuh, menyatu dengan tanah yang telah mereka pijak selama satu bulan penuh.

Dengan lambaian tangan yang berat, para prajurit akhirnya melangkah pergi, meninggalkan bukan hanya bangunan kokoh yang telah mereka dirikan, tetapi juga jejak kasih di hati anak-anak Desa Lanaus. Di kejauhan, suara tangis masih terdengar, mengiringi langkah mereka yang perlahan menjauh, membawa serta kenangan yang akan tetap hidup dalam sanubari mereka.

Kami pulang dengan hati penuh. Bukan hanya bangunan yang kami tinggalkan, tetapi juga harapan yang akan terus menyala di Desa Lanaus. Harapan yang akan bertumbuh, seiring langkah kecil yang semakin berani mengejar masa depan.