Membangun Negeri, Mengukir Perjuangandi Bumi Lancang Kuning
Oleh : Letkol Inf Fikky Nur Kuncoro Jati, S.H., M.Han., (Dansatgas Kodim 0314/Inhil)

Terik matahari memanaskan tanah merah yang terbentang luas. Debu-debu berterbangan, terbawa hembusan angin di atas jalan yang masih telanjang tanpa aspal. Jalan itu membelah perkebunan kelapa sawit di Desa Mumpa, menjadi nadi yang menggerakkan roda perekonomian warga. Melalui jalan ini, buah sawit hasil panen mereka diangkut menuju pabrik. Namun, di musim hujan, jalan ini berubah menjadi medan perjuangan. Tanah merah yang kini berdebu akan berubah menjadi lumpur yang licin dan sulit dilalui. Truk-truk pengangkut sawit sering kali terjebak di kubangan, menyulitkan para petani dalam menjual hasil panen mereka.
Dansatgas di Tengah Debu dan Terik Matahari

Terdengar suara nyaring yang menyayat telinga. Pisau bucket gleader mencabik-cabik permukaan jalan, meratakan tanah dengan garangnya. Debu mengepul, membentuk kabut tipis yang menari-nari di udara. Namun, seorang pria berbaju loreng tetap berdiri di sana, tak bergeming. Terik matahari membakar kulitnya, namun ia seolah tak peduli. Topi rimba yang dikenakannya pun tak sepenuhnya mampu menutupi wajahnya dari sengatan sang surya. Dialah Dansatgas TMMD Ke-123, Letkol Inf Fikky Nur Kuncoro Jati, S.H., M.Han.
"Pak, usahakan semua bagian badan jalan rata ya!" teriaknya, mencoba menyaingi gemuruh mesin. Sang operator gleader mengangguk, tangannya cekatan mengendalikan alat berat itu. Sementara itu, beberapa prajurit lainnya sibuk mengarahkan truk-truk yang membawa material tambahan untuk pengerasan jalan.
TMMD Ke-123: Perjuangan yang Tak Kenal Lelah
Namun, Letkol Fikky tak sendiri. Sekitar 150 anggota TNI tersebar di berbagai titik, menjalankan tugas mereka dalam program TMMD Ke-123 Tahun 2025. Desa Mumpa dan Desa Karya Tunas Jaya di Kecamatan Tempuling menjadi saksi bisu perjuangan mereka. Tak hanya pengerasan jalan, program ini juga mencakup pembangunan sumur bor di lima lokasi, rehabilitasi lima unit Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), pembangunan tiga unit MCK, normalisasi parit sepanjang 2,5 kilometer, serta rehabilitasi jembatan sepanjang 15 meter.

Mereka bekerja tak kenal lelah. Keringat mengalir, tubuh mereka dihantam debu dan panas, tetapi semangat tak pernah padam. Namun, para prajurit tak berjuang sendiri. Warga desa turut bahu-membahu, bersama anggota Polri dari Polsek Tempuling. Gotong royong yang terjalin erat menciptakan harmoni di tengah kerja keras mereka. Setiap pagi, para warga sudah bersiap dengan peralatan sederhana mereka, ikut menggali parit, mengangkut batu, dan membantu sebisa mungkin.
"Pembangunan ini bukan hanya tanggung jawab TNI, tetapi kewajiban kita semua demi kemajuan bersama," tegas Setdakab Inhil, Junaidi, S.Sos., M.Si., dalam upacara pembukaan TMMD. Ucapannya bukan sekadar formalitas, tetapi menjadi api yang menyulut semangat setiap individu yang terlibat dalam perjuangan ini.

Kecamatan Tempuling adalah wilayah rawan banjir. Air bukanlah barang langka di sini, tetapi mendapatkan air bersih adalah perjuangan tersendiri. Oleh sebab itu, sumur bor menjadi bagian penting dari program ini. Parit-parit yang tersumbat dinormalisasi dengan excavator, membuka aliran air agar tidak lagi meluap ke permukiman warga. Dalam beberapa kesempatan, anak-anak desa dengan rasa penasaran datang menyaksikan bagaimana alat berat itu bekerja, membentuk saluran air yang lebih baik bagi desa mereka.

Sanitasi juga mendapat perhatian. Tiga unit MCK dibangun untuk meningkatkan kebersihan lingkungan. Sementara itu, lima keluarga kini tersenyum bahagia, rumah mereka yang sebelumnya reyot kini berdiri kokoh. Program RTLH membawa harapan baru bagi mereka. Salah satu penerima manfaat, Pak Karim, tak kuasa menahan haru melihat rumah barunya yang lebih layak untuk dihuni oleh keluarganya.

Namun, pembangunan tak hanya berfokus pada infrastruktur. Untuk menjaga kelestarian alam, Kodim 0314/Inhil juga menanam pohon sebagai bagian dari program ini. Pohon-pohon ini diharapkan menjadi pelindung ekosistem desa di masa depan, serta membantu menjaga kestabilan tanah di daerah yang rentan terhadap banjir. Pendidikan dan peningkatan kualitas hidup juga menjadi perhatian, dengan berbagai penyuluhan dalam kegiatan non-fisik TMMD, termasuk penyuluhan tentang pola hidup sehat, kewirausahaan, dan pertanian berkelanjutan.
Apresiasi dari Tim Wasev

Di minggu ketiga pelaksanaan TMMD, Kolonel Inf Jhonson Mangasitua Sitorus dan rombongan hadir sebagai Tim Wasev. Mereka meninjau salah satu lokasi pembuatan sumur bor. Senyum dan apresiasi tak bisa disembunyikan dari wajah mereka. "Luar biasa. Ini kerja nyata yang manfaatnya bisa dirasakan langsung oleh warga," ucapnya sambil mengamati air bersih yang mulai mengalir dari sumur bor yang baru selesai dibangun.
Akhir Perjuangan, Awal Harapan Baru

Hari ke-30 pun tiba. Semua pekerjaan tuntas. Kepala Desa Mumpa, Bayang HD, mewakili warga, menyampaikan rasa terima kasih yang tulus. Upacara penutupan dipimpin oleh Kasiter Korem 031/Wira Bima, Kolonel Inf N. Wahyu Nugroho, S.E., M.Si. Tak hanya upacara, tetapi juga menjadi momentum haru yang penuh makna. Pembagian paket sembako bagi warga yang membutuhkan, kursi roda untuk lansia, serta alat pertanian menjadi penutup yang manis dari sebuah perjuangan panjang. Warga desa berkerumun, menerima bantuan dengan wajah penuh syukur, tak sedikit dari mereka yang matanya berkaca-kaca. Ini bukan sekadar bantuan, tetapi simbol nyata dari perhatian dan kepedulian yang telah diberikan. TMMD bukan hanya tentang pembangunan fisik, tetapi juga membangun kebersamaan dan harapan baru bagi warga Desa Mumpa.
Warisan TMMD: Semangat Gotong Royong

TMMD Ke-123 Tahun 2025 mengusung tema "Dengan Semangat TMMD Wujudkan Pemerataan Pembangunan dan Ketahanan Nasional di Wilayah." Kini, tema itu bukan sekadar kata-kata, tetapi nyata dalam senyum warga. Mereka kini memiliki jalan yang lebih baik, air bersih yang lebih mudah diakses, rumah yang lebih layak, serta harapan yang lebih besar untuk masa depan. Semangat gotong royong dan kebersamaan telah menjelma menjadi warisan berharga bagi Desa Mumpa dan Desa Karya Tunas Jaya. Kini, desa mereka bukan hanya memiliki infrastruktur yang lebih baik, tetapi juga semangat baru untuk terus maju dan berkembang.
