Menembus Sekat Keterbatasan, Membangun Asa Warga Larantuka

Flores Timur – Suara mesin alat berat bergemuruh sejak fajar menyingsing di Kelurahan Sarotari dan Puken Tobi Wangibao, Kecamatan Larantuka. Debu mengepul, tanah merah teraduk, dan deru semangat warga berpadu dengan pasukan berseragam loreng. TMMD Ke-124 Tahun 2025 telah resmi dimulai. Kali ini, Kodim 1624/Flotim membawa misi besar: membuka akses, mengalirkan air bersih, dan memulihkan harapan.
Dengan mengusung tema “Dengan Semangat TMMD Mewujudkan Pemerataan Pembangunan dan Ketahanan Nasional di Wilayah,” kegiatan TNI Manunggal Membangun Desa ini bukan sekadar rutinitas tahunan. Ia menjadi denyut nadi pembangunan di daerah yang selama ini berada di balik tirai keterbatasan.
Dukungan Pemerintah Daerah
Penyerhan naskah TMMD Ke 124 Kodim 1624/Flotim
Dalam upacara pembukaan TMMD, Wakil Bupati Flores Timur, Ignasius Boli Uran, S.Fil., hadir memberikan dukungan penuh. Ia berdiri di podium, menyapa satgas TMMD dan masyarakat dengan semangat.
"TMMD ini adalah bukti negara hadir di tengah rakyat. Flores Timur adalah bagian tak terpisahkan dari Indonesia, dan kegiatan seperti ini adalah bukti cinta negara kepada rakyatnya," katanya.
Wakil Bupati juga menyampaikan bahwa pemerintah daerah siap bersinergi untuk memastikan keberlanjutan dari program-program yang dibawa oleh TMMD. "Kami tidak akan membiarkan hasil kerja ini sia-sia. Ini akan kami jaga dan lanjutkan."
Empat Kilometer yang Mengubah Segalanya
Lokasi pembukaan jalan
Sejak dulu, jalur penghubung antara Kelurahan Sarotari dan Puken Tobi Wangibao hanya berupa jalan setapak berlumpur. Ketika hujan turun, warga harus mengangkat celana hingga lutut untuk melewatinya. Hasil kebun harus dipikul dengan susah payah. Sepeda motor hanya bisa melintas saat musim kemarau.
Namun kini, jalan sepanjang 4.000 meter dengan lebar delapan meter mulai dibuka oleh tangan-tangan kokoh para prajurit TNI bersama masyarakat. Batu besar disingkirkan, tanah digali, dan struktur jalan diratakan.
"Saya pikir saya tidak akan pernah melihat jalan seperti ini di kampung saya selama saya hidup," kata Bapak Yulius, seorang petani yang setiap hari membawa hasil kebun ke pasar Larantuka.
Jalan itu bukan sekadar jalan. Ia menjadi simbol harapan. Seiring terbukanya akses, terbuka pula peluang bagi pendidikan, ekonomi, dan kesehatan.
Saat upacara penutupan TMMD, Dandim 1624/Flotim Letkol Inf M. Nasir Simanjuntak, S.Ag., M.I.P., turut mendampingi Kasdam IX/Udayana, Brigjen TNI Taufik Hanafi, yang melakukan peninjauan langsung terhadap hasil-hasil pembangunan. Dalam kesempatan tersebut, Brigjen Taufik menyampaikan apresiasinya kepada seluruh prajurit dan warga yang telah berkolaborasi dengan semangat luar biasa. "TMMD bukan hanya pekerjaan teknis, ini adalah bentuk cinta kepada tanah air dan rakyat. Saya melihat sendiri hasil nyata yang akan menjadi warisan bagi generasi mendatang," ujarnya penuh haru.
Sumur dari Perut Bumi
Sasaran pembutan sumur bor
Di sudut desa yang lain, suara air bergemericik dari pipa menjadi nada paling merdu yang pernah didengar warga. Dua titik sumur bor yang dibangun di Kelurahan Sarotari dan Puken Tobi Wangibao telah mengalirkan kehidupan.
Sebelumnya, warga menggantungkan hidup pada air hujan dan mata air yang jaraknya hingga dua kilometer dari pemukiman. Saat kemarau datang, anak-anak harus antre membawa jeriken dari pagi buta. Beberapa rumah bahkan tidak memiliki air bersih selama berhari-hari.
"Kami dulu mandi di kali. Kalau musim hujan, kami bisa sakit kulit. Sekarang, air bersih sudah di depan rumah," kata Ibu Maria, seorang ibu rumah tangga dengan tiga anak kecil.
Pembangunan dua sumur bor ini bukan hanya soal teknis menggali dan memasang pipa. Ia adalah hasil dari perencanaan matang dan pemetaan kebutuhan dasar masyarakat. Setiap tetes air yang mengalir menjadi simbol kedaulatan rakyat atas kebutuhan hidup mereka. Bahkan, Brigjen TNI Taufik Hanafi yang meninjau langsung lokasi pada saat penutupan TMMD, menyempatkan diri memutar kran dari penampungan. Dari sana, air jernih mengalir deras, menjadi bukti bahwa harapan itu kini hadir nyata.
Rumah Baru, Martabat Baru
Satgas TMMD membersihkan sasaran pembanguna RTLH
Di satu sudut kampung, berdiri sebuah rumah baru berdinding semen, beratap seng yang mengilap di bawah sinar matahari. Rumah itu milik Bapak Florianus, seorang warga lanjut usia yang selama bertahun-tahun tinggal di rumah reyot berdinding bambu dan atap bocor.
"Saya tidak pernah membayangkan rumah saya bisa seperti ini. Saya hanya bisa mengucap terima kasih. Ini rumah yang akan menjadi warisan untuk anak-anak saya," katanya sambil menahan air mata.
Prajurit TNI dan masyarakat bahu-membahu merobohkan rumah lama Florianus dan membangunnya kembali. Proses itu penuh kehangatan. Di sela pembangunan, anak-anak bermain, ibu-ibu menyiapkan makanan, dan semua orang bekerja dengan satu tujuan: menjadikan rumah itu layak huni.
Renovasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) bukan hanya soal bangunan. Ia menyentuh harga diri dan martabat seseorang. Florianus kini tidak lagi harus menunggu pagi dengan was-was, takut hujan deras membuat atap roboh.
Membangun Jiwa dan Pikiran

salah satu penyuluhan di kegiatan TMMD ke 124
TMMD tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik. Di aula kelurahan dan balai warga, penyuluhan demi penyuluhan digelar. Warga diajak memahami pentingnya hidup bersih, bahayanya narkoba, pentingnya bela negara, serta bagaimana membangun ekonomi keluarga yang mandiri.
Anak-anak sekolah diberi wawasan kebangsaan. Petani diberi pelatihan tentang pertanian organik. Kaum ibu diajari tentang kesehatan gizi keluarga.
"Pembangunan manusia adalah pondasi dari pembangunan negara. Karena itu, kami tidak hanya bangun jalan, tetapi juga bangun pola pikir dan sikap," kata Flotim Letkol Inf M. Nasir Simanjuntak, S.Ag., M.I.P.
Suasana penyuluhan berlangsung hangat. Tidak ada sekat antara seragam loreng dan pakaian rakyat. Mereka duduk berdampingan, belajar bersama.
Ketika Senja Datang
Hari mulai beranjak senja. Di jalan yang baru dibuka, sekelompok anak bersepeda melintasi dengan tawa riang. Di dekat sumur, ibu-ibu mencuci piring sambil bercerita. Di rumah Florianus, lampu mulai menyala, mengusir gelap malam yang selama ini begitu akrab.
TMMD Ke-124 di Flores Timur adalah kisah tentang harapan. Tentang loreng-loreng yang tidak hanya mengawal batas negeri, tetapi juga membangun fondasi masa depan. Ini adalah kisah tentang Indonesia yang hadir bukan hanya di ibu kota, tapi juga di pelosok-pelosok negeri yang selama ini menunggu untuk dilihat.
Dan ketika malam turun sepenuhnya, hanya satu yang tersisa: semangat untuk terus melangkah maju, karena jalan sudah terbuka.

