TMMD ke-126 Way Kanan: Bukti Nyata TNI Bersama Rakyat Membangun Negeri
Oleh: Letkol Arm Sigit Windarto, S.Sos., M.Han.
Dansatgas TMMD ke-126 Kodim 0427/Way Kanan

Langit Way Kanan pagi itu nyaris tanpa awan. Udara lembap khas tanah Lampung menyelimuti halaman Kampung Sriwijaya. Bendera merah putih berkibar di tengah kerumunan warga, sementara anak-anak berdiri tegap, menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan suara lantang yang nyaris menyaingi dentuman drum prajurit.
Saya berdiri di barisan depan, seragam loreng masih berdebu. Di samping saya, Mayjen TNI Kristomei Sianturi, S.Sos., M.Si., Pangdam II/Radin Inten, baru saja menutup TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-126 Tahun 2025.
Di depan kami membentang jalan baru, rabat beton yang menghubungkan rumah-rumah warga dengan ladang di pinggir hutan. Di atasnya, seorang bocah berlari tanpa alas kaki sambil tertawa. Di bawah langkah kecilnya tersimpan kisah panjang: tentang peluh, tentang kerja keras, dan tentang cinta antara TNI dan rakyat.
Hari itu, Kampung Sriwijaya punya wajah baru dan kami semua punya kenangan yang tidak akan hilang.
Awal dari Sebuah Perjalanan
Beberapa bulan sebelumnya, kampung ini hanyalah potret keheningan di balik hutan kecil Kecamatan Umpu Semenguk, Kabupaten Way Kanan. Jalan aspalnya terkelupas, lubang-lubang kecil menganga seperti perangkap waktu. Ketika hujan turun, genangan lumpur menelan roda motor dan langkah kaki warga.
Namun, di balik kesederhanaan itu, saya menemukan sesuatu yang lebih dalam semangat hidup yang tidak pernah padam.
Kampung Sriwijaya adalah hasil program transmigrasi tahun 1980. Dulu, orang-orang datang dari Jawa dengan perbekalan seadanya dan harapan besar. Mereka menebas hutan, menanam padi, membangun rumah kayu, dan perlahan menciptakan kehidupan.
Empat puluh lima tahun kemudian, harapan itu belum padam hanya tertutup debu jalan dan waktu. TMMD datang bukan sekadar membawa alat berat, tapi membawa energi baru untuk menyalakan kembali api itu.
Sebagai Dansatgas TMMD ke-126, saya dan pasukan datang dengan satu tujuan: membangun desa, dan sekaligus membangun hati.
“TMMD Itu Menyambung Hati”
Bupati Way Kanan, Ibu Ayu Asalasiyah saat menghadiri upacara pembukaan TMMD
Saya masih ingat jelas hari pembukaan, 8 Oktober 2025. Suara genderang dan sorak warga berpadu dalam suasana penuh semangat.
Bupati Way Kanan, Ibu Ayu Asalasiyah, dalam sambutannya berkata:
“TMMD bukan sekadar membangun jalan, tapi menyambung hati antara TNI dan rakyat.”
Kalimat itu sederhana, tapi maknanya dalam. Di sanalah saya menyadari: tugas kami bukan hanya tentang rabat beton atau gorong-gorong, melainkan tentang menyatukan kembali semangat gotong royong yang menjadi jati diri bangsa ini.
Membuka Jalan, Membuka Harapan

Pembukaan jalan sepanjang 410 m dan lebar 5 m
Hari pertama pekerjaan, tanah merah menempel di sepatu seperti perekat kenangan. Matahari menyengat, tapi tidak ada keluhan. Warga datang membawa cangkul, ember, dan senyum.
Kami membuka jalan baru sepanjang 410 meter dengan lebar 5 meter bukan jalan besar, tapi jalan kehidupan.
Seorang petani bernama Pak Karyo ikut membantu sejak pagi. Sambil menyeka keringat, ia berkata,
“Dulu kalau hujan, motor harus didorong. Sekarang bisa bawa panen lebih cepat.”
Bagi saya, setiap meter jalan yang terbuka bukan sekadar infrastruktur, tapi simbol perubahan. Anak-anak kini bisa berangkat sekolah tanpa harus berjalan di lumpur, dan hasil panen bisa keluar dari kampung dengan mudah.
Kami menyebutnya “jalan harapan.”
Tanjakan yang Berubah Nama

Kebersamaan saat pengecoran rabat beton
Ada satu titik yang tak pernah saya lupakan tanjakan curam di ujung kampung. Dulu warga menyebutnya Tanjakan Sengsara. Licin ketika hujan, berdebu ketika kemarau.
Tak terhitung berapa kali warga tergelincir di sana.
Kami putuskan membangunnya menjadi rabat beton sepanjang 20 meter dan lebar 2,5 meter. Pekerjaan itu berlangsung siang dan malam. Kadang kami bekerja dalam gerimis, diterangi lampu senter dan tawa warga.
Ketika selesai, Bu Sarmi, seorang ibu rumah tangga, datang sambil tersenyum.
“Sekarang saya bisa naik motor sambil bawa panen, Pak. Sudah tidak takut lagi.”
Tanjakan itu kini berganti nama di kalangan warga: Tanjakan Harapan. Nama yang lahir dari perjuangan, bukan dari perintah.
Menjaga Aliran Kehidupan
Saya selalu percaya, kekuatan sebuah jalan bukan hanya pada permukaannya, tapi pada bagaimana ia menyalurkan air. Karena itu, TMMD juga membangun gorong-gorong dan siring di titik-titik rawan genangan.
Di sinilah kerja gotong royong benar-benar hidup. Prajurit berlutut di lumpur, warga menimba air, anak-anak membawa botol minum untuk para tentara. Di antara suara sekop dan adukan semen, saya mendengar sesuatu yang jauh lebih besar suara kebersamaan.
Kini, ketika hujan turun, air tak lagi menggerus jalan. Ia mengalir tenang di antara batu dan tanah, seolah tahu ke mana arah yang benar seperti kehidupan warga Sriwijaya yang perlahan mengalir ke arah yang lebih baik.
Rumah yang Berdiri dari Doa

Pembangunan salah satu sasaran RTLH
Selain membangun jalan, kami juga memperbaiki dua Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).
Rumah-rumah tua dengan dinding lapuk dan atap bocor kini berganti menjadi bangunan kokoh dari bata dan seng berkilau.
Saya masih ingat wajah haru seorang ibu saat pertama kali berdiri di teras rumah barunya.
“Dulu kalau angin besar, kami takut rumah roboh. Sekarang rasanya seperti mimpi,” katanya pelan.
Prajurit yang membangunnya hanya tersenyum. Di mata mereka, penghargaan terbesar bukan pangkat atau medali, tapi senyum warga yang kini tidur dengan rasa aman.
Air yang Kembali Mengalir
Pembangunan salah satu sasaran sumur bor
Air adalah kehidupan, dan di Sriwijaya, air dulu adalah kemewahan. Banyak warga yang mandi hanya ketika hujan datang.
Melalui TMMD, kami membangun dua unit MCK dan tujuh sumur bor di berbagai titik. Ketika air pertama kali menyembur keluar dari pipa, anak-anak berteriak kegirangan.
“Sekarang kami tak perlu lagi menunggu hujan,” kata Bu Lastri, sambil menimba air dengan tawa lepas.
Air yang jernih itu seperti menghapus masa lalu menggantinya dengan babak baru yang lebih bersih, sehat, dan penuh harapan.
Menanam Kehidupan, Menumbuhkan Kemandirian
Pemberian bibit padi
Bagi saya, TMMD bukan hanya tentang membangun fisik, tapi juga menanam kemandirian. Kami membagikan bibit padi, bibit ikan, 250 batang pohon pisang, serta 250 paket sembako kepada warga.
Beberapa petani tersenyum lebar saat menerima bantuan itu. Mereka tahu, apa yang kami berikan bukan sekadar bibit tapi awal dari ketahanan pangan yang sejati.
Ketika tangan prajurit dan warga sama-sama menanam bibit di tanah yang lembap, saya merasa sedang menyaksikan masa depan yang tumbuh di depan mata.
Gotong Royong yang Tak Pernah Padam
Kampung Sriwijaya mayoritas dihuni warga keturunan Jawa. Tradisi sambatan saling membantu dalam pekerjaan berat masih hidup di sini.
Setiap hari, warga datang ke lokasi proyek membawa makanan, air minum, bahkan tenaga. Tidak ada yang diminta, semua datang dengan kesadaran.
Suatu siang, Brigjen TNI Totok Sulistyono, S.H., M.M., M.I.P., Ketua Tim Wasev TMMD, datang meninjau. Ia tertegun melihat warga dan prajurit bekerja berdampingan.
“Gotong royong di kampung ini tidak dibuat-buat. Inilah kemanunggalan yang sebenarnya,” ujarnya.
Saya hanya mengangguk. Karena saya tahu, ucapan itu benar adanya. Di sini, rakyat dan TNI bukan dua pihak berbeda kami adalah satu keluarga.
Dari Lumpur ke Langit Cerah
Kecerian dan kebersamaan warga dengan satgas TMMD
Hari demi hari berlalu. Matahari, hujan, dan malam menjadi saksi kerja keras kami. Tidak ada hari tanpa peluh, tapi juga tidak ada hari tanpa tawa.
Dan akhirnya, semuanya selesai tepat waktu. Jalan terbuka, rumah berdiri, air mengalir, pohon tumbuh, dan semangat warga menyala.
Hari penutupan tiba. Saya berdiri di depan barisan prajurit, menatap warga yang kini tersenyum lepas.
Semua lelah terbayar lunas ketika seorang bocah kecil berlari di atas jalan baru sambil berseru, “Pak Tentara, jalannya halus sekali!”
Saya tertawa, menatap langit yang cerah, dan berpikir dalam hati: inilah makna pengabdian.
Kemanunggalan Itu Hidup
Kini, setiap kali saya mengingat Kampung Sriwijaya, saya tidak hanya melihat jalan yang mulus atau rumah yang kokoh. Saya melihat wajah-wajah yang berseri, tangan-tangan yang saling menggenggam, dan semangat yang tumbuh di tanah sendiri.
Di sini, kami belajar bahwa pembangunan sejati bukan soal beton atau semen, tapi tentang menyatukan hati.
Kampung Sriwijaya kini bukan hanya punya jalan baru, tapi juga semangat baru. Sebuah kampung kecil yang membuktikan bahwa kemajuan tidak harus datang dari kota besar cukup dari gotong royong, kerja keras, dan cinta kepada tanah air.
Karena di tanah ini, kemanunggalan tidak diajarkan. Ia tumbuh dari lumpur, dari peluh, dan dari hati rakyat Indonesia.
