TMMD ke-125 di Desa Sumber Makmur: Jalan Harapan dari Bumi Raflesia
Oleh : Letkol TNI Yokki Firmansyah ( Dansatgas Kodim 0428/Mukomuko )

Mentari pagi itu turun perlahan dari balik pelepah sawit. Cahaya keemasan menyusup di antara sela dedaunan, jatuh ke tanah becek yang masih menyimpan sisa hujan semalam. Embun menggantung di ujung daun, berkilau bagai permata kecil yang enggan jatuh. Desa Sumber Makmur SP8, di Kecamatan Lubuk Pinang, Kabupaten Mukomuko, tampak tenang. Namun di balik ketenangan itu, tersimpan cerita panjang tentang harapan yang selama ini terpendam.
Aku berdiri di ujung jalan desa. Sebuah jalan sepanjang 1.600 meter, lebar empat meter. Jalan yang bagi orang kota mungkin hanyalah jalur kecil di antara kebun sawit, tetapi bagi warga di sini, jalan itu adalah nadi kehidupan.
Kini jalan itu masih telanjang. Lumpur menguasai permukaannya, genangan air membuatnya seperti rawa kecil. Di kiri dan kanan, pohon-pohon sawit menjulang lurus, diam, menjadi saksi bisu perjuangan mereka yang menggantungkan hidup pada tandan buah sawit.
Dari kejauhan, seorang remaja melintas dengan galah panjang. Ujungnya terikat sabit besar, egrek namanya. Dengan gerakan cekatan, ia menurunkan tandan sawit yang berat. Motor tuanya terparkir di tepi jalan, dimodifikasi seadanya dengan keranjang besi di kiri-kanan.
Aku menghampirinya.
“Lagi panen, Bang?” tanyaku.
“Iya, Pak.” Suaranya lirih, keringat bercucuran di wajah mudanya.
Aku menunjuk motornya. “Angkutnya pakai motor ini?”
Ia mengangguk. “Kalau musim hujan begini, mobil nggak bisa masuk. Jadi kami angkut dulu pakai motor, baru pindahkan ke mobil di jalan besar. Kerja dua kali, biaya juga lebih mahal. Itu pun kalau nggak tergelincir di lumpur.”
Aku terdiam.
Di sanalah alasan itu menemukan bentuknya. TMMD bukan sekadar program, tetapi jawaban atas kesulitan nyata yang dialami rakyat.
Gerbang Perubahan

Tanggal 23 Juni 2025 menjadi saksi dimulainya perubahan di desa ini. Upacara pembukaan TMMD ke-125 bukan sekadar seremoni, melainkan ikrar kebersamaan. Personel satgas Kodim 0428/Mukomuko yang ditunjuk sudah siap mengabdikan diri. Kali ini mereka turun bukan untuk perang, melainkan untuk kesejahteraan rakyat. Selama 30 hari penuh, peluh dan tenaga mereka dicurahkan demi terwujudnya harapan warga Sumber Makmur.
Hari itu, TMMD ke-125 resmi dibuka. Bukan sekadar upacara, melainkan gerbang perubahan yang akan mengubah wajah desa.
Bupati Mukomuko, H. Choirul Huda, S.H., berdiri tegak di hadapan warga. Suaranya mantap, menggema ke seluruh penjuru lapangan
“TMMD ini adalah wujud nyata sinergi TNI dan pemerintah daerah. Apa yang dibangun di Desa Sumber Makmur bukan sekadar jalan atau drainase, tetapi jalan menuju kesejahteraan. Mari kita rawat kebersamaan ini, karena membangun daerah bukan kerja satu pihak, melainkan kerja kita semua.”
Kata-kata itu bagai mantra. Seolah-olah setiap kalimatnya membuka pintu harapan, bahwa apa yang dulu dianggap mimpi, kini mulai menjadi nyata.
Batu Demi Batu, Harapan Tersusun

Truk-truk besar mulai merayap masuk ke Desa Sumber Makmur. Ban-ban raksasanya berputar pelan, menggulung tanah merah yang basah oleh hujan semalam. Lumpur terpercik ke kanan dan kiri, menempel di badan kendaraan yang sudah penuh bercak tanah. Namun, tak ada yang mampu menghentikan laju mereka. Di dalam bak, berton-ton batu koral menunggu untuk ditumpahkan, menjadi penopang harapan warga desa yang selama ini terkubur dalam becek dan genangan.
Setiba di lokasi, suara mesin menderu nyaring. Perlahan, bak truk terangkat tinggi, lalu menumpahkan muatan. Batu-batu koral berhamburan jatuh dengan gemuruh, memecah keheningan desa. Debu tipis mengepul, bercampur dengan aroma tanah basah, menciptakan suasana yang tak biasa. Warga yang menyaksikan dari pinggir jalan bertepuk tangan kecil, seolah-olah setiap batu yang jatuh adalah potongan mimpi yang akhirnya mulai tersusun nyata.
Tak lama, excavator yang sejak pagi bersiaga langsung bergerak. Lengan besinya yang kokoh berayun, menyapu tumpukan batu, meratakannya di atas tanah merah yang selama ini menjadi jerat lumpur. Dentuman besi beradu dengan koral, berulang-ulang, seperti irama kerja keras yang tak pernah padam. Perlahan tapi pasti, jalur yang dulunya licin dan becek kini mulai berubah wajah: lapisan batu yang kokoh menggantikan tanah rapuh, memberi tanda bahwa sebuah jalan baru, dan juga sebuah harapan baru, sedang lahir di Desa Sumber Makmur.
Menyalurkan Air, Menjaga Jalan

Tidak hanya jalan yang menjadi perhatian, namun saluran drainase sepanjang 1.600 meter dengan lebar 1,5 meter pun digali sejajar dengan badan jalan. Excavator bergerak lincah, mencabik tanah di sisi kiri dan kanan, sementara pasukan satgas bersama warga menyingkirkan sisa galian dengan cangkul dan sekop. Setiap ayunan besi seolah membawa pesan jalan ini harus kering, tak boleh lagi menjadi rawa yang menahan langkah warga saat hujan tiba.
Di titik-titik rawan banjir, suara dentuman kembali terdengar. Gorong-gorong besar diturunkan, dipasang satu per satu hingga berjumlah lima titik. Butuh tenaga ekstra, peluh bercucuran, namun tak ada wajah yang mengeluh. Justru, semangat gotong royong terasa kental prajurit dan warga desa bahu-membahu, seakan tak ada jarak di antara mereka.
Semua berjalan dengan ritme yang teratur alat berat menderu, pasukan satgas memberi aba-aba, dan warga ikut mengisi celah dengan tenaga sukarela. Dari pagi hingga senja, Desa Sumber Makmur tak lagi sunyi. Dentuman mesin, teriakan komando, dan tawa warga yang menyaksikan kerja besar ini berpadu menjadi satu: denyut kehidupan yang menandai lahirnya sebuah perubahan.
Rumah Baru untuk Sobriyanto

Di sebuah sudut desa berdiri rumah reyot milik Pak Sobriyanto, buruh tani sawit. Atapnya bocor, dindingnya miring, lantainya hanya tanah padat.
“Dulu kalau hujan, kami sekeluarga tidur sambil memeluk ember. Air menetes dari atap ke mana-mana,” ucapnya lirih, menahan haru.
Dinding rapuh diganti papan baru, atap bocor diganti seng yang kuat, lantai tanah disemen agar lebih bersih. Bagi Sobriyanto, itu bukan sekadar rumah. Itu adalah martabat yang kembali, tempat ia bisa melindungi keluarganya dengan tenang.
Permata Kecil di Tengah Desa
Tak jauh dari jalan utama, sebuah mushola kecil tampak kusam. Cat dinding mengelupas, atap bocor di beberapa bagian, lantainya retak-retak. Namun di sinilah warga bersujud, dan anak-anak belajar mengeja ayat demi ayat Al-Qur’an.
Kini mushola itu berdiri lebih kokoh. Cat baru menghias dinding, atap diperbaiki hingga tak lagi meneteskan hujan, lantai retak kini halus. Dari kejauhan, mushola itu tampak seperti permata kecil di tengah desa, memantulkan cahaya kehangatan bagi siapa saja yang singgah.
Air Kehidupan dari Perut Bumi

Jika jalan adalah nadi, maka air adalah jiwa. Di Desa Sumber Makmur, air bersih dulu terasa jauh. Ada yang menimba sumur keruh, ada yang menadah hujan. Saat kemarau, semua jadi sulit.
Kini, mesin bor menembus tanah. Ketika semburan pertama muncul, warga bersorak. “Air ini anugerah. TNI membantu kami menemukan kehidupan,” kata Pak Darwis dengan wajah penuh syukur.
Lima titik sumur bor dibangun, lengkap dengan bak penampungan. Satu titik bahkan berdiri di pura desa simbol kebersamaan lintas umat. Lainnya di madrasah, agar para santri tak lagi harus menimba jauh hanya untuk berwudhu.
Air yang dulu mewah, kini hadir di depan mata
Ladang Harapan Baru
Di lahan kosong satu hektar, cangkul menembus tanah. Bibit ditanam dengan rapi, irigasi sederhana digali. Inilah ladang ketahanan pangan, alternatif di luar sawit.
Letda Cku Iim Sudjanak berdiri memberi arahan, “Kami ingin warga tidak hanya bergantung pada sawit. Desa harus mandiri.”
Wajah para pemuda bersemangat. Anak-anak muda belajar bercocok tanam, ibu-ibu tersenyum membayangkan panen. Ladang kecil ini menumbuhkan kemandirian besar.
Membangun Manusia, Menyemai Kesadaran
Pembangunan fisik hanyalah satu sisi dari wajah TMMD. Di balik dentuman alat berat dan tumpukan material, ada denyut lain yang tak kalah penting: pembangunan manusia. TMMD ke-125 Kodim 0428/Mukomuko juga hadir menyalakan cahaya pengetahuan, menanamkan kesadaran, dan memperkuat semangat kebersamaan warga Desa Sumber Makmur.
Di balai desa, suasana berbeda tampak setiap harinya. Ibu-ibu berkumpul antusias mengikuti penyuluhan KB dan kesehatan. Mereka mendengarkan dengan saksama bagaimana menjaga kesehatan keluarga, mulai dari gizi seimbang hingga perawatan ibu dan anak. Raut wajah mereka menunjukkan kesadaran baru: bahwa kesehatan keluarga adalah pondasi pertama menuju kehidupan sejahtera.
Tak jauh dari sana, para pemuda desa mengikuti penyuluhan hukum dan bahaya narkoba. Dengan serius mereka mendengar penjelasan seorang Babinsa yang menegaskan, “Kami ingin pemuda Sumber Makmur bebas narkoba, kuat untuk bangsa.” Kalimat itu menggema, meneguhkan tekad generasi muda untuk menjauhi jerat yang bisa merusak masa depan mereka.
Di sekolah desa, suasana begitu khidmat. Anak-anak duduk rapi, mata berbinar mendengarkan kisah perjuangan bangsa. Materi wawasan kebangsaan dan bela negara membuat mereka bangga menjadi bagian dari Indonesia. Dari wajah-wajah mungil itu, terlihat semangat merah putih yang mulai tumbuh, menyalakan harapan untuk masa depan yang lebih kuat.
Sementara itu, para petani mengikuti penyuluhan pertanian dan lingkungan hidup. Mereka diajarkan teknik bertani yang lebih ramah lingkungan, bagaimana menjaga kesuburan tanah, hingga pentingnya menanam tanpa merusak alam. Penyuluhan kehutanan juga digelar, mengingatkan warga agar bijak mengelola hutan, sehingga sumber daya alam tetap lestari untuk anak cucu.
Di sisi lain, penyuluhan stunting dan pelayanan posyandu berjalan penuh semangat. Kader posyandu sibuk menimbang, memeriksa, dan memberi vitamin kepada balita. Senyum ramah mereka membuat suasana hangat, seolah setiap anak adalah titipan bangsa yang harus dijaga tumbuh kembangnya dengan baik.
Semua rangkaian kegiatan ini melengkapi kerja fisik TMMD. Karena membangun jalan, mushola, atau rumah hanyalah awal. Yang terpenting adalah membangun manusia: memberi pengetahuan, menyalakan semangat, dan menanamkan kesadaran. Dari sinilah TMMD benar-benar menghadirkan perubahan yang utuh, bukan hanya pada wajah desa, tetapi juga pada jiwa warganya.
Kehadiran Sang Penyemangat

Suatu hari, desa menjadi lebih ramai dari biasanya. Anak-anak sekolah berdiri rapi, bendera berkibar di tepi jalan. Warga berbondong-bondong ingin melihat tamu penting Tim Wasev Strad Mabesad, dipimpin Brigjen TNI Heri Susanto.
Dengan langkah mantap, Brigjen Heri meninjau jalan, drainase, rumah, hingga sumur. Sesekali ia berhenti, berbincang dengan warga yang tersenyum bangga. “Inilah bukti nyata kemanunggalan TNI dengan rakyat,” ucapnya sambil menepuk bahu seorang prajurit.
Kehadirannya bukan sekadar pengawasan, melainkan obor penyemangat. Para prajurit semakin bersemangat, warga semakin yakin: negara tidak pernah melupakan mereka.
Semua Menjadi Nyata Berkat Satgas TMMD dan Gotong Royong Warga

Hari-hari yang penuh kerja keras akhirnya membuahkan hasil. Jalan yang dulunya hanya berupa lintasan becek kini telah berubah menjadi jalur kokoh yang bisa dilalui dengan mudah. Drainase terpasang rapi, rumah layak huni berdiri, mushola kembali indah, MCK sehat dapat digunakan, dan air bersih mengalir dari sumur bor.
Semua itu tidak hadir begitu saja. Di balik setiap batu yang disusun, setiap gorong-gorong yang dipasang, hingga setiap papan yang diganti, ada peluh Satgas TMMD Kodim 0428/Mukomuko yang bercampur dengan keringat warga desa. Mereka bekerja tanpa sekat, bahu-membahu, saling menguatkan.
Inilah wajah sejati kemanunggalan TNI dan rakyat. Gotong royong yang diwariskan leluhur bangsa terbukti masih hidup dan terus menjadi energi perubahan. Sumber Makmur kini bukan hanya memiliki jalan baru, tetapi juga harapan baru. Jalan Harapan dari Bumi Raflesia akhirnya benar-benar terwujud.
Harapan yang Kini Menjadi Kenyataan
Dari tanah becek yang dulu kerap menahan langkah, kini berdiri jalan kokoh yang membuka harapan. Dari rumah reyot yang dulu tak mampu melindungi, kini tumbuh hunian yang memberi martabat. Dari air yang dulu sulit didapat, kini mengalir kehidupan di setiap sumur bor. Dan dari gotong royong yang sederhana, lahirlah perubahan besar yang akan dikenang sepanjang masa.
TMMD ke-125 di Desa Sumber Makmur adalah bukti bahwa kemajuan tidak selalu lahir dari kota besar, tetapi bisa tumbuh dari desa kecil ketika hati, tenaga, dan harapan bersatu. Di sinilah kemanunggalan TNI dan rakyat menemukan makna sejatinya: membangun negeri dengan peluh, dengan doa, dan dengan cinta.
Jalan Harapan dari Bumi Raflesia kini bukan lagi sekadar nama, melainkan kenyataan yang akan terus mengantarkan langkah warga menuju masa depan yang lebih cerah.
